Meeting Results: Bulog sebut ekspor beras RI ke Malaysia masih tahap negosiasi harga
Bulog Mengungkap Ekspor Beras RI ke Malaysia Masih dalam Proses Penawaran Harga
Jakarta, Rabu – Perum Bulog menyatakan bahwa rencana pengiriman beras Indonesia ke Malaysia belum menemui kesepakatan harga. Dalam diskusi terkini, fokus utama masih tertuju pada aspek tarif, menurut Ahmad Rizal Ramdhani, direktur utama perusahaan tersebut.
Kami hanya fokus pada peneguhan harga dalam diskusi kemarin. Meski kualitas beras mereka sudah memadai, masalah utamanya adalah harga yang menurut kami perlu ditingkatkan lagi karena terlalu rendah,” jelas Rizal di Jakarta, Rabu.
Pihak Malaysia menawarkan harga di bawah Rp10.000 per kg, sedangkan Bulog menargetkan harga lebih tinggi sesuai kualitas beras yang ditawarkan. Rizal menambahkan bahwa beras yang ditujukan untuk ekspor memiliki kualitas premium dengan persentase butir patah sekitar 5 persen.
Sementara itu, beras premium di pasar dalam negeri memiliki tingkat butir patah 15 persen dan dijual dengan harga Rp14.900 per kg. Bulog menawarkan harga sekitar Rp13.000 hingga Rp14.000 per kg karena beras yang dijual termasuk kategori premium.
Rizal menegaskan bahwa Bulog tidak akan menyetujui harga yang dianggap merugikan. “Kalau harga segitu, kita seperti memberi subsidi ke negara lain,” katanya.
Beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di dalam negeri memiliki harga Rp12.500 per kg, sehingga penawaran di bawah Rp10.000 per kg dianggap terlalu rendah. Rencana ekspor beras ke Malaysia masih dalam pembahasan, termasuk volume akhir dan mekanisme kerja sama.
Rizal menyebutkan bahwa minat awal Malaysia terhadap beras Indonesia mencapai sekitar 200 ribu ton. Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, pembicaraan mengenai ekspor beras ke Malaysia masih berlangsung dan belum ada kesepakatan akhir.
Ia menambahkan bahwa pembahasan teknis ditangani bersama staf khusus Kementerian Pertanian dan Perum Bulog. Pemerintah akan terus mengevaluasi kelanjutan rencana ini dengan memperhatikan kepentingan nasional dan stabilitas pasokan dalam negeri. “Masih dalam proses negosiasi,” ujar Amran.