Meeting Results: Rupiah melemah dipicu ketegangan AS-Iran yang tingkatkan harga energi

Rupiah melemah dipicu ketegangan AS-Iran yang tingkatkan harga energi

Pada Kamis pagi, nilai tukar rupiah tercatat menurun 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.181 per dolar AS. Dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Muhammad Amru Syifa dari Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah berawal dari ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

“Konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan AS-Iran, mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang aman,” jelas Syifa.

Menurut laporan Sputnik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya telah memperpanjang gencatan senjata secara mandiri dengan Iran, sambil tetap menjalankan blokade terhadap pelabuhan negara itu. Dengan adanya perpanjangan gencatan senjata, Trump berharap Iran bisa mengajukan proposal yang komprehensif.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa pelanggaran komitmen, tindakan blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Pezeshkian menekankan bahwa Iran tetap terbuka untuk dialog dan kesepakatan, meski tekanan dari AS dinilai menghambat upaya mencapai kesepahaman.

Ketidakpastian seputar perjanjian gencatan senjata yang rapuh serta risiko kegagalan negosiasi memicu lonjakan harga energi. Anadolu mencatat bahwa harga minyak mentah Brent mencapai sekitar 98,50 dolar AS per barel pada pukul 18:40 GMT Selasa (22/4). Sementara itu, harga WTI naik menjadi 89,60 dolar AS per barel. Selain itu, harga gas alam Eropa juga meningkat 8,2 persen, dengan kontrak TTF mencapai 51,3 dolar AS per megawatt-jam.

Dalam konteks eksternal, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi secara lebih lama memberi dampak positif pada penguatan dolar AS. Hal ini berpotensi memperkuat aliran modal ke luar pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dari segi domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga di 4,75 persen menunjukkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar meski tekanan eksternal meningkat.

Syifa menambahkan bahwa inflasi yang mendekati batas atas target serta tekanan harga energi membatasi ruang kebijakan BI. Untuk mengurangi volatilitas, BI juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.

“Pelemahan rupiah yang tajam pada pembukaan hari ini mencerminkan respons pasar terhadap sentimen global yang berkembang sebelumnya,” ujar Syifa. Kondisi likuiditas yang lebih sempit pada awal perdagangan memperbesar tekanan tersebut. Aksi jual beli dolar oleh pelaku pasar dalam negeri serta potensi aliran modal keluar juga berkontribusi pada pelemahan mata uang.

Kombinasi faktor seperti penguatan dolar AS, risiko geopolitik yang meningkat, dan keterbatasan ruang kebijakan domestik dinilai sebagai penyebab utama pelemahan rupiah. Meski BI telah mengambil langkah stabilisasi melalui intervensi valas dan kebijakan DNDF, tekanan jangka pendek dianggap masih signifikan. “Perkembangan geopolitik, kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas langkah domestik akan menentukan arah rupiah ke depan,” tegas Syifa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *