New Policy: LPEI sebut aktivitas ekspor tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik

LPEI: Kegiatan Ekspor Tetap Lancar Meski Terjadi Ketidakstabilan Global

Direktur Pelaksana Bisnis II Indonesia Eximbank, Sulaeman, menyatakan bahwa kegiatan ekspor nasional masih berjalan baik meski menghadapi tantangan geopolitik. Ia menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah berdampak pada pasar global, termasuk kelangkaan bahan baku plastik akibat gangguan suplai minyak di Selat Hormuz serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Hingga akhir periode, semua jalur distribusi yang kita kelola masih berjalan lancar,” kata Sulaeman dalam sesi wawancara media di Gresik, Jawa Timur, Jumat.

Untuk menjaga stabilitas ekspor, LPEI mengandalkan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang menawarkan dukungan finansial dari praekspor hingga pascaekspor. Selain itu, lembaga ini juga melakukan simulasi risiko melalui stress testing untuk mengidentifikasi sektor yang paling rentan, terutama usaha yang terlibat dalam perdagangan dengan wilayah Timur Tengah.

Dalam menghadapi ketidakpastian politik internasional, LPEI terus memantau dampak gangguan rantai pasok dan pelemahan rupiah terhadap kinerja debitur. Langkah mitigasi seperti pemilihan produk pembiayaan berdasarkan transaksi jelas sudah disiapkan, baik untuk pengiriman maupun setelah barang sampai.

Sulaeman menambahkan bahwa prioritas utama LPEI saat ini adalah meningkatkan ekspor nasional melalui dua skema, yaitu PKE dan pembiayaan komersial. Ia menekankan bahwa skema PKE memiliki efek pengganda signifikan, dengan setiap Rp1 yang dialokasikan mampu berkontribusi pada pembangunan hingga tiga kali lipat.

Nilai total pembiayaan PKE mencapai Rp13,7 triliun, terbagi dalam enam program dan tujuh proyek. Hingga 2025, fasilitas ini telah memberikan total limit Rp3,35 triliun dengan realisasi penyaluran mencapai Rp7,68 triliun. Sektor makanan olahan menjadi kontributor terbesar, menyumbang 39 persen dari total portofolio.

Program Mitigasi Dukung Perusahaan Jaga Likuiditas

Richard Cahadi, Direktur Utama PT Mega Global Food Industry (Kokola Group), mengungkapkan bahwa bantuan dari LPEI penting untuk mempertahankan produksi di tengah gangguan rantai pasok. Ia menjelaskan bahwa konflik Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga bahan baku plastik karena interupsi pasokan bahan mentah naphta.

“Kalau tidak ada dukungan dari LPEI, kami akan kesulitan memenuhi kebutuhan dana untuk membeli bahan baku. Minyak bumi yang menjadi dasar plastik ini memang mengalami gangguan rantai pasok. Kami harus memastikan ketersediaan bahan kemasan agar produksi tidak terhambat,” ujarnya.

Richard menyebutkan bahwa skema PKE membantu perusahaan dalam menjaga arus kas, terutama ketika pemasok memaksa pembayaran di muka. Berdasarkan data, program ini telah menciptakan atau menghemat devisa sebesar Rp21,12 triliun selama 2025, menjangkau 18 sektor industri seperti kopi, furnitur, tekstil, dan elektronik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *