Special Plan: Anggota DPR dorong penguatan kebijakan terpadu jaga stabilitas rupiah

Anggota DPR Dorong Penguatan Kebijakan Terpadu untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Di Jakarta, anggota Komisi XI DPR RI Erik Hermawan menyarankan peningkatan kebijakan yang terkoordinasi untuk mempertahankan kestabilan rupiah, meski pasar keuangan global terus berubah tak terduga. Ia menyoroti bahwa daya tahan mata uang Indonesia tergantung pada strategi yang menggabungkan aspek jangka pendek dan perbaikan struktural.

Menurut Erik, penurunan nilai rupiah terutama dipengaruhi oleh tekanan eksternal, seperti aliran modal keluar yang signifikan dan kecenderungan investor internasional mengalihkan portofolio ke aset dolar AS. “Langkah strategis yang bersifat jangka pendek dan menitikberatkan pada perbaikan struktural sangat penting,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Meski rupiah terbilang undervalued, tekanan terhadap nilai tukarnya tetap menjadi sorotan utama dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Erik menilai, situasi ini menggambarkan ketidakseimbangan antara fondasi ekonomi dalam negeri dan fluktuasi pasar keuangan global yang kian tidak pasti.

Menurutnya, tekanan dari lingkungan global tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam hal fundamental, kondisi perekonomian Indonesia cukup kuat, dengan inflasi terkendali, pertumbuhan stabil, dan cadangan devisa yang memadai untuk mendukung stabilitas jangka pendek.

Meski demikian, kekuatan tersebut masih kurang untuk mengimbangi tekanan dari siklus keuangan global, yang didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter negara-negara maju. Erik menekankan perlunya pengembangan investor lokal untuk mengurangi ketergantungan pada modal asing, yang diharapkan bisa mengurangi volatilitas rupiah secara berkelanjutan.

Di samping itu, ia menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan rupiah. Ia menilai bahwa pemanfaatan alat keuangan, peningkatan koordinasi fiskal, serta komunikasi kebijakan yang jelas menjadi faktor kunci untuk mempertahankan kepercayaan pasar di tengah tekanan eksternal yang tinggi.

Erik menekankan bahwa situasi ini seharusnya menjadi peluang untuk mempercepat perubahan ekonomi nasional, terutama dalam meningkatkan daya saing produk ekspor dan memperkuat struktur industri dalam negeri. “Dengan fondasi ekonomi yang lebih solid, Indonesia diharapkan mampu menghadapi perubahan global secara lebih resilien dan menjaga kestabilan nilai tukar secara berkelanjutan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *