Special Plan: Reforminer sebut permintaan tembaga akan meningkat akibat EBT dan EV
Reforminer Sebut Permintaan Tembaga Akan Meningkat Akibat EBT dan EV
Jakarta – Pemimpin ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, mengungkapkan bahwa kebutuhan akan tembaga diprediksi meningkat berkat sektor-sektor seperti infrastruktur, listrik, serta industri energi baru terbarukan (EBT), khususnya kendaraan listrik (EV). “Itu yang nantinya menyerap produksi tembaga dan tembaga olahan (katoda) dari smelter tembaga yang beroperasi di Indonesia,” jelas Pri Agung dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu. Ia menekankan bahwa ekosistem industri ini memerlukan dukungan dan fasilitasi dari pemerintah agar dapat berkembang optimal.
Kemudahan Investasi untuk Optimalisasi Produksi
Dia berharap ada kemudahan investasi di sektor-sektor turunan yang menjadi penyerap tembaga, sehingga mampu meningkatkan produksi dalam negeri. Langkah ini diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, Pri Agung mengapresiasi upaya hilirisasi tembaga yang sudah berjalan. Menurutnya, peningkatan nilai tambah dari ekspor mineral mentah menjadi katoda tembaga sudah cukup signifikan untuk meningkatkan neraca perdagangan Indonesia.
“Jika ekosistem industri itu belum berkembang maka produksi yang ada akan lebih banyak terserap untuk ekspor,” kata Pri Agung.
Ekosistem Industri Tembaga di Indonesia
Saat ini, industri tembaga Indonesia didominasi oleh perusahaan tambang besar dengan proyek strategis. Beberapa perusahaan utama termasuk PT Freeport Indonesia, yang merupakan bagian dari grup MIND ID, PT Amman Mineral Internasional Tbk, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk. Masing-masing perusahaan memiliki cadangan tembaga yang berbeda-beda. PT Freeport Indonesia, misalnya, melaporkan peningkatan cadangan tembaga hingga 2041 menjadi 8 miliar pon, angka ini naik dari estimasi sebelumnya sebesar 7 miliar pon.
PT Amman Mineral Nusa Tenggara mencatat cadangan mineral mencapai sekitar 460 juta ton hingga 2030. Peningkatan ini terjadi seiring dimulainya fase baru penambangan, yaitu Fase 8 di Tambang Batu Hijau. Sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk melaporkan pertumbuhan cadangan tembaga sepanjang 2025 menjadi 9,1 juta ton atau naik 6 persen. Dari sisi bijih, cadangan juga melonjak 60 persen menjadi 3,0 juta ton.
Peran Smelter dalam Peningkatan Nilai Tambah
Besarnya cadangan tersebut didukung oleh kehadiran smelter yang meningkatkan nilai tambah komoditas tembaga. Berdasarkan riset Kementerian ESDM, nilai tambah dari smelter tembaga mencapai sekitar 1,74 kali lipat dibandingkan bahan baku konsentrat. Dalam sektor peleburan, Indonesia telah memiliki sejumlah smelter aktif yang menjadi inti hilirisasi. Fasilitas utama terdapat di Gresik, Jawa Timur, serta proyek smelter baru di Nusa Tenggara Barat yang memperkuat kapasitas pengolahan lokal.
Potensi sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi
Jika ekosistem industri berhasil dibangun secara terintegrasi, Pri Agung meyakini bahwa tembaga memiliki potensi menjadi motor pertumbuhan baru. Ini juga akan meningkatkan nilai tambah ekonomi dalam negeri. Dengan pengembangan yang harmonis, industri tembaga diharapkan mampu menjawab permintaan global sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional.