Key Strategy: Rupiah menguat seiring posisi kuat APBN hadapi dampak konflik AS-Iran
Rupiah Naik karena Kekuatan APBN Hadapi Dampak Konflik AS-Iran
Jakarta – Rupiah mencatatkan kenaikan 57 poin atau 0,33 persen pada hari ini, bergerak ke Rp17.229 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pergerakan dari level sebelumnya di Rp17.286 per dolar AS. Pergerakan tersebut didukung oleh keyakinan pemerintah bahwa Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) saat ini dalam kondisi stabil, meski menghadapi tekanan akibat kenaikan harga komoditas energi karena konflik Timur Tengah.
“Ketika harga minyak mentah berfluktuasi tinggi dan melebihi asumsi makro APBN 2026, yakni di atas 100 dolar AS per barel, pemerintah tetap mampu mengendalikan kenaikan harga bahan bakar minyak subsidi tanpa menghabiskan cadangan APBN berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL),” tutur Ibrahim Assuaibi, ahli ekonomi mata uang dan komoditas, dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Jumat.
Menurut Ibrahim, cadangan SAL yang mencapai Rp423 triliun saat ini belum digunakan sepenuhnya untuk mengatasi tekanan belanja subsidi akibat kenaikan harga energi. SAL dianggap sebagai sumber dana terakhir bagi pemerintah jika anggaran belanja tidak lagi bisa memenuhi target defisit di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
BI juga memperkuat stabilitas rupiah dengan menerapkan berbagai kebijakan moneter. Intervensi dilakukan secara bersamaan di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, dan pasar domestik Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, bank tersebut memperluas operasi valas melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore, guna mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kegiatan perdagangan.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini bergerak menguat ke Rp17.278 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp17.308 per dolar AS. Perkembangan ini mencerminkan langkah pemerintah dan BI dalam menjaga keseimbangan keuangan di tengah ketidakpastian global.