Special Plan: Manulife nilai fiskal masih aman meski RI tahan subsidi BBM
Manulife nilai fiskal masih aman meski RI tahan subsidi BBM
Jakarta – Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyatakan bahwa ruang fiskal negara ini tetap terjaga, meskipun pemerintah memutuskan menahan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah kenaikan harga minyak global. Rizki Ardhi, Senior Portfolio Manager-Equity di MAMI, mengungkapkan bahwa kebijakan ini memberi manfaat bagi daya beli masyarakat dan membantu mengendalikan inflasi.
“Namun, di sisi lain, konsekuensinya adalah meningkatnya beban subsidi energi,” kata Rizki dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu.
Dengan asumsi harga minyak rata-rata tahun ini mencapai 85 dolar AS per barel, atau 21 persen lebih tinggi dari proyeksi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), anggaran subsidi energi bisa naik hingga Rp103 triliun. Angka ini setara 0,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut Rizki, tekanan tersebut dapat diimbangi oleh efisiensi dan realokasi dana sebesar Rp259 triliun, sehingga ruang fiskal dinilai tetap memadai. Dari perspektif pasar keuangan, ia mengatakan lonjakan harga minyak secara historis biasanya hanya bersifat sementara, kecuali jika terjadi tekanan makroekonomi yang lebih besar.
“Dampak konflik di Timur Tengah terhadap outlook pasar Indonesia ke depan sangat bergantung pada seberapa cepat normalisasi harga dan pasokan minyak dapat terjadi,” jelasnya.
Rizki menambahkan, risiko terhadap pasar meningkat jika gangguan pasokan berlangsung lama, yang bisa memicu tekanan tambahan seperti resesi global atau kenaikan suku bunga. Dalam hal konflik geopolitik, dampaknya tergantung pada durasi perang dan kecepatan pemulihan distribusi energi.
Apabila gangguan sementara, efeknya dianggap terbatas dan masih bisa diatasi oleh perekonomian global. Sebaliknya, eskalasi konflik yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan tekanan lebih luas, terutama pada sektor energi.
Ia juga menyoroti risiko gangguan pasokan jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terkena konflik. Hal ini bisa memicu kenaikan harga energi global. Namun, proyeksi terbaru dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan pertumbuhan ekonomi global masih stabil.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi mendorong inflasi global, khususnya dari komponen energi dan transportasi. Meski begitu, inflasi inti dinilai tetap terkendali, sehingga tekanan terhadap bank sentral untuk mengetatkan moneter agresif masih terbatas.
“Kondisi ini penting bagi bank sentral, karena selama ekspektasi inflasi jangka menengah tetap terkendali, tekanan global untuk mengetatkan moneter agresif masih cukup terbatas,” tambah Rizki.