What Happened During: BPD Bali perluas QRIS sasar Korea Selatan
BPD Bali perluas QRIS sasar Korea Selatan
Denpasar – Sebagai badan usaha milik daerah (BUMD), PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali sedang mengembangkan sistem pembayaran digital lintas negara melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang ditujukan pada pasar Korea Selatan. “Kami sedang memproses izin dari Bank Indonesia,” kata Direktur Utama Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma di Denpasar, Bali, Kamis. Menurutnya, negara ginseng ini menjadi negara kelima yang menjadi sasaran setelah kerja sama dengan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang telah berjalan.
“Bank sentral Korea Selatan secara masif mendorong penggunaan QR lintas negara, seperti QRIS Indonesia. Kami yakin potensinya sangat menjanjikan,” tambah Sudharma.
Kunjungan wisatawan dari Korea Selatan tergolong tinggi di Indonesia, terutama di Bali. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatatkan jumlah pengunjung dari negara tersebut mencapai 346 ribu orang selama Januari-Desember 2025, naik 4,99 persen dibandingkan tahun 2024 sebanyak 294 ribu orang. Turis asal Korea Selatan menduduki peringkat keempat dalam jumlah pengunjung asing di Bali pada 2025.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah meluncurkan QRIS lintas negara bersama Korea Selatan pada 1 April 2026. Kerja sama ini diharapkan mendorong pembentukan sistem pembayaran yang terpadu, efisien, dan inklusif sebagai dasar integrasi ekonomi digital antara kedua negara. Selama periode tersebut, QRIS telah digunakan oleh 60,77 juta pengguna hingga Februari 2026.
Sebagai satu-satunya bank pembangunan daerah di Indonesia yang menerapkan QRIS lintas negara, BPD Bali terus memperkuat aspek teknologi informasi, pengelolaan keamanan siber, serta perlindungan data sesuai regulasi yang berlaku. Dalam beberapa waktu terakhir, kerja sama QRIS dengan negara-negara lain telah mencatatkan transaksi signifikan. Misalnya, dengan Thailand sejak Agustus 2022 tercatat 1,64 juta transaksi senilai Rp656,27 miliar, Malaysia sejak Mei 2023 mencapai 10,66 juta transaksi dengan nominal Rp2,75 triliun, Singapura sejak November 2023 mencatat 554 ribu transaksi senilai Rp179,28 miliar, dan Jepang sejak Agustus 2025 berjumlah 5.088 transaksi dengan nilai Rp428,80 juta.
Menurut BI, frekuensi transaksi dari wisatawan asing yang beraktivitas di Indonesia (inbound) lebih tinggi dibandingkan transaksi masyarakat Indonesia di luar negeri (outbound). Pada 2025, BI mencatat total transaksi inbound sebanyak 5,9 juta, melebihi transaksi outbound yang tercatat 1,6 juta.