Important Visit: Tanggapi kenaikan harga LPG, Akademisi dorong gunakan kompor induksi

Tanggapi kenaikan harga LPG, Akademisi dorong gunakan kompor induksi

Jakarta – Sebagai upaya menghadapi penyesuaian tarif LPG nonsubsidi 12 kilogram, Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof Iwa Garniwa menyarankan pemerintah mempercepat pengembangan jaringan gas kota serta mendorong transisi ke kompor induksi. Menurutnya, penggunaan energi listrik untuk keperluan memasak di kawasan perkotaan lebih efisien dan membantu menjaga ketersediaan energi nasional, karena mengurangi ketergantungan masyarakat pada gas bumi cair yang sebagian besar berasal dari impor.

“Elektrik kita dalam kondisi surplus, lebih aman, dan tidak tergantung pada impor,” kata Iwa dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat.

Ia juga menyoroti perluasan akses kredit mikro bagi UMKM agar mereka bisa beralih ke kompor induksi, serta penyediaan LPG nonsubsidi dalam ukuran lebih kecil untuk membuat harganya lebih terjangkau. Selain itu, Prof Iwa menegaskan pentingnya memperketat sistem distribusi LPG 3 kilogram dengan pendataan berbasis nama dan alamat sesuai nomor kependudukan.

Secara khusus, Prof Iwa memperingatkan risiko peralihan konsumen non-subsidi ke produk gas bersubsidi akibat selisih harga yang signifikan. Ia menunjukkan bahwa perbedaan tarif LPG 12 kilogram dan 3 kilogram hampir mencapai tiga kali lipat, sehingga secara ekonomi logis jika masyarakat tergoda untuk beralih. Namun, hal ini berpotensi mengganggu subsidi yang dialokasikan dari APBN.

Terkait dampak penyesuaian harga, Iwa menilai kenaikan LPG 12 kilogram yang mengikuti mekanisme pasar global tidak akan memberi tekanan besar terhadap perekonomian makro. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), LPG nonsubsidi hanya menyumbang 0,18 persen dalam indeks inflasi nasional, sehingga kenaikan harganya kontribusinya pada inflasi diprediksi sangat kecil. Angka ini jauh di bawah komoditas seperti beras (3,8 persen) dan bensin (4 persen).

Meski demikian, Iwa mengingatkan adanya kemungkinan efek lanjutan (second round effect) terutama pada sektor UMKM kuliner. “Kenaikan biaya bisa diteruskan ke harga makanan. Misalnya, harga pecel ayam naik Rp1.000. Ini yang nanti terasa, tapi biasanya bertahap dalam 1-2 bulan,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *