Meeting Results: Praktisi: AI perlu lebih ditekankan dalam pelatihan penjurubahasaan

Praktisi: AI Perlu Lebih Ditekankan dalam Pelatihan Penjurubahasaan

Kuala Lumpur menjadi tempat pengumuman pandangan Ni Ketut Ayu Puspita Dewi, ketua Divisi Internal Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), mengenai pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pelatihan penjurubahasaan. Sebagai pendiri Bali Interpreting Academy, Ayu berpendapat bahwa industri penjurubahasaan dapat mengintegrasikan AI secara lebih luas dalam program pelatihan interpreter. “Dari perspektif industri, AI bisa menjadi elemen kunci dalam sistem pembelajaran penjurubahasaan,” ujarnya.

Ayu menekankan bahwa teknologi ini mampu meningkatkan kualitas dan efisiensi proses pembelajaran. Misalnya, perangkat berbasis AI dapat berfungsi sebagai asisten latihan dalam berbagai aspek seperti simulasi penerjemahan, pengujian keterampilan, atau evaluasi hasil terjemahan. “Kita perlu mengeksplorasi potensi AI untuk mengoptimalkan proses pengajaran,” katanya. Dalam rangkaian Konferensi Penerjemahan, Penjurubahasaan, dan Komunikasi China–ASEAN yang diselenggarakan oleh Xiamen University, Ayu mendorong pembentukan komunitas belajar yang mewadahi kolaborasi antar pelaku bidang ini.

“Saya yakin, penggunaan AI dalam pelatihan interpreter adalah langkah penting untuk meningkatkan standar pendidikan dan penelitian di bidang penjurubahasaan,” ujarnya.

Menurut Ayu, kehadiran Asosiasi Penerjemah, Penjurubahasaan, dan Komunikasi China–ASEAN yang diperkenalkan dalam konferensi tersebut merupakan inisiatif yang tepat waktu. “Organisasi ini muncul sebagai solusi untuk mengatasi tantangan dalam pengembangan keahlian di negara-negara ASEAN,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberadaan asosiasi ini akan membantu menjembatani kesenjangan pemahaman budaya antar negara, serta meningkatkan efektivitas komunikasi antarbangsa.

Ayu juga mengusulkan pendirian sertifikasi kompetensi China-ASEAN dan komunitas belajar lintas budaya. “Langkah ini akan mendukung peningkatan kualitas pelaku penjurubahasaan, terutama dalam menghadapi kebutuhan akan interpreter untuk bahasa ASEAN yang masih kurang terpenuhi,” jelasnya. Berdasarkan data dan penelitian dari Xiamen University, ia menyoroti bahwa riset seputar penjurubahasaan bahasa ASEAN masih minim, sehingga perlu diperkuat melalui kerja sama internasional.

Asosiasi yang didirikan bersama oleh lebih dari 10 lembaga unggul dari China, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, serta negara lainnya memiliki sekretariat di College of Foreign Languages and Cultures, Xiamen University. Peluncuran lembaga ini dianggap sebagai babak baru kerjasama dalam bidang penerjemahan dan komunikasi lintas budaya, sekaligus langkah awal untuk mengejar peluang dan tantangan di era kecerdasan buatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *