New Policy: Menkes: Nutri-level dapat ciptakan FOMO mendorong hidup lebih sehat

Menkes: Nutri-level Memicu Rasa Khawatir untuk Mendorong Kesehatan Lebih Baik

Jakarta, Rabu – Dalam podcast bersama ANTARA di Jakarta, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti kebijakan pelabelan gizi, atau Nutri-level, sebagai alat untuk membangkitkan rasa cemas akan kehilangan peluang (FOMO) yang mendorong masyarakat menuju gaya hidup lebih sehat. Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya mampu mengubah persepsi publik, tetapi juga mendorong pelaku industri untuk turut serta dalam meningkatkan kualitas pangan.

Menkes menjelaskan bahwa penerapan Nutri-level telah memperoleh sambutan baik dari berbagai pihak, termasuk pengelola pusat perbelanjaan dan beberapa merek restoran. “Beberapa pengelola mall sudah datang untuk mengimplementasikan label ini, serta beberapa chain restoran yang ingin memperkuat citra mereka sebagai penyedia makanan sehat,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keinginan untuk hidup sehat tidak bisa dipaksa, tetapi harus muncul dari kesadaran masyarakat sendiri.

“Jantung itu kalau nggak salah Rp17 triliun setahun,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Kebijakan tersebut bertujuan membentuk kebiasaan masyarakat yang lebih bijak dalam memilih makanan dan minuman. Menkes menyebut bahwa desain sederhana Nutri-level, yang mudah dipahami, efektif dalam memengaruhi perilaku konsumen, seperti yang terlihat di negara-negara lain yang telah menerapkannya, seperti Prancis, Singapura, Belgia, Swiss, dan beberapa negara di Eropa.

Menkes menambahkan bahwa FOMO yang dihasilkan oleh Nutri-level berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengadopsi pola hidup sehat. Ia berharap ratusan juta warga Indonesia menyadari bahwa gaya hidup sehat adalah kunci untuk tetap produktif, memperpanjang usia, dan memastikan kesejahteraan generasi mendatang. “Program lari untuk mengurangi tekanan darah lebih sulit diadopsi dibandingkan saat Car Free Day (CFD), yang dianggap lebih menarik,” jelasnya.

Menkes juga menyoroti beban kematian di Indonesia yang dominan disebabkan oleh penyakit non-terowongan. Ia menyebut bahwa penyakit stroke menjadi penyebab utama kematian, dengan jumlah korban mencapai 300 ribu per tahun. Penyakit jantung mengikuti dengan 250 ribu kematian, sementara kanker dan penyakit ginjal masing-masing menyumbang sekitar 50 ribu hingga 60 ribu kematian setahun. “Biaya BPJS untuk pengobatan penyakit ini sangat besar,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *