Solving Problems: Stafsus: Relasi antara manusia dan teknologi harus kolaboratif

Stafsus: Relasi antara manusia dan teknologi harus kolaboratif

Makassar – Dalam acara kuliah umum yang berlangsung di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Kampus Tamalanrea, Kamis, Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto menyampaikan pandangan bahwa hubungan antara manusia dan teknologi perlu terus berkembang secara bersama. Ia menekankan bahwa keterlibatan manusia dan teknologi harus saling melengkapi, bukan bersaing.

Yovie Widianto menjelaskan, meskipun kecerdasan buatan (AI) mampu menciptakan karya dalam waktu singkat, kreativitas tetap menjadi bidang utama manusia. Teknologi, menurutnya, berperan sebagai alat pendukung yang mempercepat proses, tetapi tidak menggantikan inti dari penciptaan. Perubahan mendasar di sektor kreatif global, seperti yang ia sampaikan, menjadi bukti kuat bahwa AI sedang mengubah cara kita berproduksi.

Keterlibatan manusia sebagai pemakna

Dalam pembicaraan tersebut, Yovie meminta manusia untuk kembali menegaskan perannya. Ia menekankan bahwa selain sebagai pencipta, manusia juga perlu menjadi penjelma dalam setiap tahap kreatif. “Inovasi tidak selalu harus spektakuler. Justru kemampuan berpikir adaptif, solutif, dan menghadirkan nilai tambah menjadi pondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” ujarnya.

“Inovasi tidak selalu harus spektakuler. Justru kemampuan berpikir adaptif, solutif, dan menghadirkan nilai tambah menjadi pondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan,”

Yovie juga menyatakan bahwa ide-ide baru muncul dari kepekaan membaca konteks, disiplin mengolah pengalaman, serta keberanian mencoba sesuatu yang berbeda. Proses kreatif, menurutnya, adalah perjalanan yang tidak bisa direduksi menjadi hasil instan. Ia menyoroti pentingnya kesadaran akan peran manusia dalam memastikan bahwa teknologi tidak hanya mempercepat, tetapi juga memperkaya.

Tantangan Indonesia dalam inovasi global

Selain itu, Yovie mengungkapkan tantangan yang dihadapi Indonesia. Menurutnya, negara ini tidak cukup sekadar menerapkan teknologi, tetapi harus memastikan inovasi tetap memiliki akar budaya dan memperkuat identitas bangsa di panggung internasional. “Kita harus mewujudkan kreativitas yang berkelanjutan, dengan memadukan teknologi dan nilai-nilai lokal,” tutur Yovie.

Kuliah umum dengan tema “Creative Generation: Turning Ideas, Culture, and Creativity into Global IP” ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau bagaimana ekonomi kreatif bisa menjadi daya tarik global dengan memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *