Special Plan: Badan Karantina awasi ketat jalur distribusi hewan kurban dari timur

Badan Karantina awasi ketat jalur distribusi hewan kurban dari timur

Lombok Barat menjadi lokasi pengawasan utama oleh Badan Karantina terhadap distribusi hewan kurban dari wilayah timur, khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kedua daerah tersebut dianggap sebagai pusat pengiriman ternak ke berbagai wilayah Indonesia, menurut Deputi Bidang Karantina Hewan Sriyanto saat meninjau antrean truk pengangkut hewan di Pelabuhan Gili Mas, Sabtu.

“Ternak dikirim dari timur ke barat. Sentra produksi ternak sapi Indonesia berasal dari wilayah terutama NTB dan NTT,” jelas Sriyanto.

Pengawasan fokus pada pintu keluar utama hewan ternak di pelabuhan-pelabuhan NTB dan NTT untuk memastikan kelancaran serta keamanan distribusi. Pelabuhan Gili Mas di Lombok Barat dan Pelabuhan Tenau di Kupang dianggap sebagai jalur penting pengiriman sapi dari timur ke barat. Sriyanto menambahkan bahwa Kupang lebih lancar karena menggunakan KM Camara Nusantara, sementara dari Flores ada yang menuju Bima atau langsung ke Kalimantan dan Sulawesi.

Badan Karantina memastikan semua hewan kurban dalam kondisi sehat, bebas dari penyakit seperti mulut dan kuku (PMK), antraks, serta penyakit kulit berbenjol. Proses ini melibatkan pengambilan sampel dan pemeriksaan sebelum pengiriman dilakukan. “Hewan harus diambil sampel dan diperiksa sebelum dikirim agar terjamin keamanannya,” tutur Sriyanto.

Karantina NTB mendorong pelaku usaha dan peternak untuk memenuhi persyaratan dokumen dan melakukan pemeriksaan fisik sebagai upaya melindungi sumber daya hayati. Kepala Balai Karantina NTB Ina Soelistyani menegaskan bahwa sertifikasi kesehatan hewan adalah alat penting dalam memastikan keamanan distribusi antar pulau.

Per 18 April 2026, NTB mencatat telah mengirim 19.700 ekor sapi. Jumlah Sertifikat Veteriner (SV) yang diterbitkan mencapai lebih dari 19.000 dokumen. Untuk distribusi ke Jabodetabek, kuota pengiriman mencapai sekitar 22.500 ekor, dengan realisasi hingga kini masih tersisa ratusan ekor yang dalam proses pengiriman.

“Sertifikasi menjadi penjaminan. Kami menyatakan hewan yang dikirim sudah diperiksa dan bebas dari penyakit seperti PMK, antraks, serta yang lainnya agar sampai ke masyarakat dalam kondisi aman,” kata Ina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *