Special Plan: BKKBN ingatkan Bali pertimbangkan keseimbangan dalam Program KB 4 Anak
BKKBN Ingatkan Bali Pertimbangkan Keseimbangan dalam Program KB 4 Anak
Di Badung, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyarankan Gubernur Bali Wayan Koster untuk memikirkan keseimbangan daerah sebelum mendorong pelaksanaan Program KB 4 Anak. “Pak Gubernur kemarin menyatakan, apakah memiliki anak empat itu salah? Kami merasa tidak salah, tetapi belum tepat karena masyarakat tetap bisa memiliki 4 atau 5 anak selama mereka memperhatikan keseimbangan,” ujar Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono pada acara Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis.
Budi menekankan pentingnya Pemprov Bali memastikan kondisi keuangan daerah dan menganalisis risiko yang mungkin muncul jika jumlah penduduk terlalu banyak atau terlalu sedikit. “Kami juga meminta pemerintah memikirkan layanan pendidikan dan peluang kerja yang memadai,” tambahnya. Peningkatan jumlah penduduk memerlukan pertimbangan ekonomi serta keberlanjutan lingkungan, agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan yang mengganggu.
“Termasuk lingkungan hidup kita, apakah masih bisa dijaga jika pertumbuhan penduduk melonjak? Kita harus berada di titik yang tepat agar tidak gagal dalam skenario,” tutur Budi Setiyono.
Dalam menyusun kebijakan, BKKBN menekankan kebutuhan untuk menyesuaikan suplai tenaga kerja dengan permintaan pasar. “Jumlah anak yang ideal harus selaras dengan kebutuhan industri, termasuk layanan kesehatan, pendidikan, dan peluang pekerjaan,” jelasnya. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kelebihan pasokan tenaga manusia yang tidak sesuai dengan kebutuhan, maupun kekurangan yang memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Program KB 4 Anak juga dianggap sebagai upaya untuk menjaga jumlah penduduk asli Bali. Gubernur menganggap ini penting karena nama-nama tradisional seperti Nyoman dan Ketut semakin langka, sementara penduduk lokal adalah penjaga budaya dan tradisi yang menjadi dasar wisata Bali. “Kami ingin masyarakat tetap bisa merasakan manfaat dari program ini tanpa mengabaikan keseimbangan,” pungkas Budi Setiyono.
Kemendukbangga/BKKBN mengakui definisi KB telah berubah dari jumlah anak tertentu menjadi komunitas yang berencana. “Fokusnya kini adalah memastikan keseimbangan demografi, agar jumlah penduduk tidak terlalu banyak maupun terlalu sedikit,” tegasnya. Langkah ini diharapkan menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan untuk masa depan.