Special Plan: RSUD Arifin Achmad Riau tangani kasus langka pasien dengan dua rahim

RSUD Arifin Achmad Riau Hadapi Kasus Medis Langka

Pekanbaru, (ANTARA) – Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad di Riau berhasil menangani kasus langka yang melibatkan pasien remaja perempuan berusia 14 tahun. Pasien ini memiliki dua rahim, dua serviks, satu vagina, serta satu ginjal, kondisi yang dikenal sebagai sindrom “Herlyn-Werner-Wunderlich” (HWW).

“Kasus ini sangat jarang karena risiko terjadi kurang dari satu persen, sekitar 1 dari 600 pasien dengan gangguan pembentukan organ reproduksi,” ujar dr Imelda E Baktiana, dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fertilitas, Endokrin, dan Reproduksi RSUD Arifin Achmad, Rabu.

Kondisi tersebut menyebabkan salah satu rahim mengalami sumbatan, sehingga darah menstruasi tidak bisa keluar dan menumpuk hingga saluran tuba. Hal ini memicu rasa sakit hebat di perut saat siklus menstruasi berlangsung. Penanganan kasus ini melibatkan dr Imelda dan dr Dafnil Akhir Putra, dokter spesialis Obgyn Konsultan Uroginekologi dan Rekonstruksi.

Tim medis melakukan serangkaian pemeriksaan seperti USG abdomen, USG transrektal, serta MRI sebelum memutuskan operasi gabungan pada Senin (13/4). Dalam prosedur tersebut, dr Dafnil bertugas membuka sekat yang menghalangi rahim melalui vagina, mengeluarkan darah menstruasi yang terperangkap, dan melakukan rekonstruksi vagina agar kembali normal. Sementara dr Imelda menangani histeroskopi, yaitu pemeriksaan minimal invasif menggunakan selang kamera untuk memperjelas kondisi rongga rahim.

Dokter Imelda juga melakukan laparoskopi untuk membersihkan darah yang menyebar ke rongga perut. “Dengan teknik histeroskopi dan laparoskopi, kami bisa memastikan kondisi rahim sekaligus menghilangkan darah yang terperangkap secara efektif,” katanya. Pasca-operasi, kesehatan pasien dilaporkan stabil. Jika tidak ada komplikasi, pasien diperkirakan bisa pulang dalam 24 jam dan menjalani kontrol rutin di poliklinik.

Kelainan pembentukan organ reproduksi yang dialami pasien, menurut Dafnil, terjadi sejak awal kehamilan. “Meskipun mekanisme fisiknya sudah teridentifikasi, penyebab pasti gangguan perkembangan embrio ini belum sepenuhnya diketahui,” tambah Dafnil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *