New Policy: Hyundai tahan harga mobil meski harga plastik dan biaya produksi naik
Hyundai tahan harga mobil meski harga plastik dan biaya produksi naik
Dalam kondisi harga plastik serta biaya produksi meningkat, PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) menyatakan bahwa harga jual kendaraannya tidak akan mengalami kenaikan. Hal ini diungkapkan oleh Chief Operating Officer HMID, Fransiscus Soerjopranoto, saat memberi pernyataan di Jakarta, Kamis.
“Sejauh ini, walaupun ada faktor eksternal seperti kenaikan harga plastik dan kurs rupiah, kami masih mampu mempertahankan harga yang kompetitif. Tidak ada rencana untuk menaikkan tarif penjualan,” ujarnya.
Perusahaan mengklaim kenaikan biaya produksi tersebut ditangani melalui upaya efisiensi internal. Perbaikan dilakukan di berbagai tahap, mulai dari proses manufaktur hingga distribusi, sehingga dampaknya tidak terasa langsung pada konsumen maupun jaringan dealer.
Strategi ini menjadi bagian dari komitmen Hyundai untuk menjaga stabilitas pasar otomotif nasional. Dengan mempertahankan harga, pihaknya berharap daya beli masyarakat tetap terjaga meski kondisi ekonomi terus berubah.
Kebijakan Hyundai dan Tantangan Eksternal
Fransiscus menegaskan bahwa langkah ini akan dijalankan hingga kondisinya memungkinkan. “Kita akan terus lakukan demi konsumen kami, agar industri otomotif kita tetap stabil,” tambahnya.
Selama ini, harga plastik di Indonesia mengalami lonjakan signifikan, mencapai 30-70 persen, bahkan ada yang naik hingga 100 persen pada April 2026. Lonjakan ini didorong oleh gangguan pasokan bahan baku akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Harga plastik kresek, misalnya, meningkat dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per bungkus, sementara jenis lainnya naik dari Rp20 ribu ke Rp25 ribu per bungkus. Pemerintah pusat telah mengambil langkah strategis untuk mengatasi tekanan harga bahan baku plastik dan komoditas lain yang terdampak dinamika global.