S&P soroti utang RI – Menkeu sampaikan komitmen jaga defisit APBN
S&P soroti utang RI, Menkeu sampaikan komitmen jaga defisit APBN
Dalam wawancara terbaru, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai tanggapan atas kekhawatiran Standard & Poor’s Global Ratings (S&P) terhadap rasio utang Indonesia. Ia menuturkan, “Ada sedikit kecemasan mengenai rasio utang terhadap pendapatan pajak, tapi saya yakin mereka bisa terkontrol ke depan, dan belum mencapai titik kritis.”
Analisis S&P terhadap kondisi fiskal
Menkeu menjelaskan bahwa S&P memeriksa secara rinci kondisi keuangan negara, khususnya upaya menjaga defisit di bawah batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). “Mereka meminta penjelasan detail mengenai konsistensi defisit APBN, termasuk pelaksanaannya di tahun 2025,” katanya.
“Saya sampaikan bahwa defisit APBN 2025 bisa menurun ke level 2,8 persen PDB setelah hasil audit BPK,” ujar Purbaya.
Menurut data sementara, defisit APBN 2025 saat ini tercatat sebesar 2,92 persen dari PDB. Purbaya menambahkan bahwa proyeksi ini berpotensi berubah setelah dinilai oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kinerja pengumpulan pajak juga menjadi fokus utama, dengan pertumbuhan mencapai 30 persen pada dua bulan pertama 2026.
Progres pajak pada 2026
Dalam tiga bulan awal tahun ini, penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun, atau 16,7 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun. Menurut Menkeu, peningkatan tersebut dipengaruhi oleh reorganisasi struktur organisasi yang sedang dijalankan untuk memperkuat pengelolaan pajak, serta faktor musiman pada bulan Maret.
“Pertumbuhan pajak yang tercatat di triwulan pertama 2026 menunjukkan peningkatan signifikan, sehingga S&P bersikap positif terhadap proyeksi ini,” tambah Purbaya.
Purbaya menekankan bahwa S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada BBB dengan outlook stabil, berdasarkan kemajuan ekonomi yang terlihat baik di akhir tahun 2025. “Mereka melihat peningkatan pertumbuhan ekonomi dan aktivitas keuangan yang membaik sebagai alasan utama untuk menjaga outlook peringkat tersebut,” tuturnya.