Historic Moment: Menlu Palestina: Kondisi Gaza memburuk, butuh aksi global
Menlu Palestina: Kondisi Gaza Memburuk, Butuh Aksi Global
Di Istanbul, Menteri Luar Negeri Palestina Varsen Aghabekian menyampaikan pernyataan pada Jumat, menyoroti bahwa tindakan genosida Israel terhadap warga Palestina di Jalur Gaza masih berlangsung. Menurutnya, situasi kemanusiaan di wilayah tersebut semakin memburuk dan memerlukan intervensi internasional segera.
Penandatanganan Perjanjian Sharm el-Sheikh
Dalam sesi panel di Forum Diplomasi Antalya, Aghabekian menunjukkan bahwa meskipun telah berlalu lima bulan sejak penandatanganan perjanjian gencatan senjata Sharm el-Sheikh, kondisi di Gaza tetap menggambarkan bencana. “Yang kita saksikan saat ini adalah krisis besar,” ujarnya.
“Pembunuhan terus berlanjut, jumlah korban luka semakin meningkat, dan bantuan kemanusiaan belum mencapai tingkat yang diperlukan,” katanya.
Aghabekian menjelaskan bahwa kehidupan warga Palestina terus diperburuk, dengan banyak penduduk yang tinggal di tenda-tenda yang rentan banjir dan tidak memenuhi standar higienis. Ia menambahkan bahwa laporan dari organisasi internasional mengungkapkan bahwa masyarakat hidup dalam keadaan puing-puing dan sampah, sementara pasokan makanan terkontaminasi oleh hewan pengerat.
Menlu Palestina juga mengkritik kecepatan respons bantuan darurat dari komunitas internasional. “Kapan bantuan kemanusiaan akan dimulai? Kapan layanan kesehatan, pendidikan, dan air dapat tersedia bagi warga?” tanyanya, menyoroti ketidakpuasan terhadap upaya yang dianggap lambat.
Kondisi Akibat Serangan Bertahun-Tahun
Ia menyatakan bahwa kondisi saat ini adalah akibat dari serangan Israel yang berlangsung selama bertahun-tahun. “Genosida ini merupakan puncak dari pelanggaran berkelanjutan yang membawa kita ke titik ini,” tambahnya.
Sementara itu, pihak Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa pelanggaran harian terhadap gencatan senjata sejak 10 Oktober 2025 telah menewaskan 765 warga Palestina dan melukai 2.140 orang lainnya. Gencatan senjata tersebut diumumkan setelah dua tahun serangan Israel yang dimulai pada Oktober 2023, yang menyebabkan kematian lebih dari 72.340 warga dan cedera 172.250 orang, serta hancurkan sekitar 90% infrastruktur Gaza.