Berapa pendapatan nelayan ikan sapu-sapu di Ciliwung?
Berapa pendapatan nelayan ikan sapu-sapu di Ciliwung?
Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana melakukan pembersihan Sungai Ciliwung dan saluran air sekitar Kalibata pada Jumat (17/4) mendatang. Kebijakan ini bertujuan mengatasi masalah tumpukan sampah serta meningkatkan kualitas aliran air sebelum musim hujan di bulan September 2026. Selain itu, ikan sapu-sapu yang dianggap merusak tanggul dan mengancam populasi ikan lain juga menjadi target dalam operasi tersebut.
Kondisi air memengaruhi hasil tangkapan
Nelayan lokal yang menangkap ikan sapu-sapu di Ciliwung mengungkapkan bahwa penghasilan mereka sangat tergantung pada kondisi aliran air. Ajum (39), salah satu nelayan, menjelaskan bahwa saat debit air stabil, ia biasanya mampu mengumpulkan sekitar 15 kilogram ikan per hari. Namun, dalam musim hujan atau banjir, hasil tangkapan bisa turun hingga 10 kilogram. “Kalau air sungai dalam kondisi baik, hasil tangkapan bisa mencapai 20 hingga 30 kilogram. Namun, dalam situasi banjir, jumlah ikan yang berhasil ditangkap turun menjadi sekitar 10 kilogram, bahkan seringkali disimpan sementara karena risiko terkena bahaya,”
kata Ajum saat dijumpai di tepian Sungai Ciliwung, Jakarta, Kamis.
Pendapatan tidak menentu
Harga ikan sapu-sapu saat ini berkisar antara Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Meski demikian, pendapatan nelayan tetap bergejolak karena kondisi lingkungan yang tak pasti. Dalam situasi aliran sungai kurang optimal, hasil tangkapan kadang hanya cukup untuk menutupi biaya operasional sehari-hari. “Kalau lagi boncos, hasilnya cuma buat ongkos jalan, sehari bisa habis Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,”
ujarnya.
Pekerjaan berisiko tinggi
Ajum mengatakan bahwa menangkap ikan sapu-sapu memerlukan keahlian khusus. Ia biasa mencari ikan selama lima hingga enam jam, mulai sore hingga malam. Alat bantu utamanya adalah ban yang digunakan untuk mengapung di aliran air. Namun, pekerjaan ini mengandung ancaman seperti arus deras, benda hanyut, dan kondisi fisik yang menuntut ketahanan.
Tangkapan diolah menjadi makanan
Ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap umumnya dijual ke pengepul dan kemudian diolah menjadi produk makanan seperti cilok, nugget, otak-otak, serta kerupuk. Proses ini menjadi sumber penghasilan utama para nelayan, meski tetap tergantung pada hasil penangkapan yang fluktuatif.
Kegiatan pembersihan akan melibatkan penyedotan lumpur, pembersihan saluran air, dan pengangkutan ikan sapu-sapu. Langkah ini diharapkan bisa memperbaiki ekosistem sungai serta mencegah kerusakan struktur tanggul yang disebabkan oleh ikan tersebut. Selain itu, pembersihan juga bertujuan mengurangi predasi terhadap ikan-ikan lain dan telur mereka.