Facing Challenges: Warga Cengkareng kembali keluhkan kesulitan air bersih

Warga Cengkareng Keluhkan Kondisi Air Bersih

Jakarta – Di Jalan H. Djairi, RT 05 RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, sejumlah penduduk kembali mengeluhkan masalah ketersediaan air bersih. Salah satu warga, Nurliana Sihombing (61), mengatakan kesulitan tersebut sudah dialami sejak awal penggunaan layanan PAM 25 tahun lalu. Menurutnya, air yang dialirkan sering kali berubah warna dan bau tidak sedap. “Kadang airnya mirip susu, kadang seperti kopi, bau terus. Bau got,” ujar Nurliana saat diwawancara di lokasi, Selasa.

“Kita pertama kali pasang kan bagus tuh, bening. Enggak berapa bulan, enggak keluar sama sekali, sampai sekarang selalu begitu. Nah, ke sini-ke sini, airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got,”

Nurliana, yang tinggal di kawasan tersebut lebih dari 30 tahun, terpaksa bangun tengah malam untuk mengisi air dari penampungan. “Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar pukul 01.00 hingga 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk,” keluhnya.

Penampungan Air di Rumah Penduduk

Di rumahnya, Nurliana menyimpan beberapa ember untuk menampung air pada malam hari. “Iya, kita bangun jam dua, jam tiga malam gitu buat ngisi air. Jadi kita sudah punya penampungan kayak ember berapa biji gitu. Terpaksa, habis kalau enggak begitu, enggak punya air bersih,” tambahnya.

Kerusakan aliran air membuatnya harus menunda aktivitas seperti mandi atau memasak. “Jika stok air bersih kurang pada siang hari, terpaksa menunda mandi atau hanya mandi sekali sehari. Padahal, saya merasa tak pernah telat membayar tagihan setiap bulannya sebesar Rp50 ribu,” kata dia.

Dalam penjelasannya, Nurliana menyoroti biaya tambahan karena penggunaan mesin pompa. “Masalahnya tuh sebenarnya enggak bayar itu doang, tapi kan bayar listrik juga. Karena air di sini enggak bisa ngalir kalau enggak pakai mesin pompa, jadi nambah lagi tagihan listriknya,” tuturnya.

Penanganan Masalah dari RT

Ketua RT 05/RW 02 Rawa Buaya, Eka, mengungkapkan bahwa krisis air PAM sudah menjadi masalah berkepanjangan di wilayahnya. “Masalah air PAM memang sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan, sebagian warga memutus sambungan dan beralih ke air tanah, meski kualitasnya tak sebaik saat normal,” katanya.

Eka menyebutkan bahwa air yang ditampung sering kali terkontaminasi. “Pas hidupin air PAM, dapat seember dua ember bagus kan airnya. Namun, setelah ditampung lagi tahu-tahu airnya sudah tercampur sama yang kotor, jadi bau semua gitu,” ungkapnya.

“Setelah mengalami kejadian tersebut, saya pun juga turut memutus sambungan air PAM di rumah dan merogoh kocek lebih untuk beralih ke air tanah. Di sana, warga sebenarnya sudah sering protes dan melaporkan hal ini kepada petugas. Bahkan, saat petugas datang, air seringkali dalam keadaan hitam dan berbau,”

Eka menambahkan bahwa petugas sering kali hanya melakukan pemeriksaan sementara. “Ditanya kenapa alasannya, ‘Mungkin ada kebocoran pas betulin jalan atau bagaimana’ begitu jawabannya. Tapi sampai sekarang enggak benar-benar. Cuma sering dikontrol di depan sana tuh, sering dibongkar-bongkar tapi tetap saja masih (kotor),” ujarnya.

Beberapa hari sebelumnya, air tampak jernih ketika petugas datang, tetapi keesokan harinya kembali berubah menjadi hitam dan bau got. Eka berharap ada perbaikan infrastruktur yang lebih permanen untuk mengatasi masalah tersebut. “Ya mudah-mudahan PAM itu dibenarin lah di mana. Maksudnya, anehnya kan kenapa kayak ada waktu-waktunya gitu lho nyalanya, padahal kita kan pakainya bayar, di situ saja kita heran,” pungkas Nurliana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *