Special Plan: Minggu pagi, kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat
Minggu pagi, kualitas udara Jakarta masuk kategori tidak sehat
Kota Jakarta mengalami penurunan kualitas udara yang mencapai tingkat tidak sehat, menempati peringkat ketujuh terburuk secara global, menurut laporan IQAir yang diperbarui pada pukul 06.00 WIB. Masyarakat dianjurkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko paparan polutan.
Menurut laman IQAir, kualitas udara Jakarta mencatatkan angka 139 dengan konsentrasi partikel PM2.5 sebesar 51,1 mikrogram per meter kubik. Tingkat ini berpotensi merugikan kelompok individu yang rentan atau merusak nilai estetika lingkungan.
Pemprov DKI Jakarta sedang mengevaluasi Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung mulai Mei hingga Agustus mendatang. Langkah ini melibatkan peningkatan sistem pemantauan udara dan uji emisi kendaraan.
Skala kualitas udara dibagi menjadi empat kategori: baik, sedang, sangat tidak sehat, dan berbahaya. Kategori baik berada dalam rentang PM2.5 0-50, yang tidak memengaruhi kesehatan manusia, hewan, atau lingkungan. Kategori sedang (51-100) memengaruhi tumbuhan sensitif dan nilai estetika, tetapi tidak berdampak signifikan pada kesehatan manusia.
Kategori sangat tidak sehat (200-299) berisiko merugikan sebagian populasi yang terpapar, sementara kategori berbahaya (300-500) dapat menyebabkan dampak kesehatan serius. Kota-kota lain yang masuk dalam peringkat buruk pada Minggu ini antara lain: Delhi (India) dengan 330, Chiang Mai (Thailand) 184, Kathmandu (Nepal) 163, Shenzen (China) 154, dan Chengdu (China) 152.
Menurut Pemprov DKI, pengendalian polusi udara memerlukan kerja sama lintas sektor dan wilayah. Aksi terintegrasi antar organisasi daerah serta kolaborasi regional diperlukan untuk mengatasi masalah ini secara efektif.