Special Plan: Kronologi Krisis Selat Hormuz: Dari Serangan hingga Guncangan Pasar
Kronologi Krisis Selat Hormuz: Dari Serangan hingga Guncangan Pasar
Mulai dari Konflik Militer
Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berdampak pada pergerakan pasokan energi global. Selat Hormuz, jalur laut penting yang mengalirkan sekitar 20% produksi minyak dunia, menjadi fokus utama krisis geopolitik ini. Penutupan dan pembukaan terus-menerus terhadap jalur tersebut menyebabkan fluktuasi tajam pada harga minyak mentah dan tekanan inflasi bagi negara-negara pengguna bahan bakar, termasuk Amerika Serikat.
Operasi Militer dan Gangguan Pasokan
Ketegangan memuncak pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran dalam Operasi Epic Fury. Tindakan ini dipicu oleh rencana pemerintahan Donald Trump untuk mengurangi ancaman nuklir dari Iran. Respons cepat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengakibatkan penutupan efektif Selat Hormuz, menghentikan aliran jutaan barel minyak per hari. Akibatnya, defisit pasokan global diprediksi mencapai 10 hingga 14 juta barel per hari.
“Amerika Serikat memiliki ketahanan energi melalui produksi domestik,” pernyataan pejabat AS di awal krisis.
Pergerakan Pasar Modal dan Harga Minyak
Konflik ini langsung memengaruhi volatilitas pasar global. Harga minyak dunia melonjak mendekati US$100 per barel pada awal Maret 2026, setelah sebelumnya diproyeksikan stabil. Di Amerika Serikat, rata-rata harga bensin naik tajam hingga US$4 per galon, level tertinggi sejak 2022. Lonjakan ini memicu kekhawatiran terhadap daya beli konsumen dan pertumbuhan ekonomi.
Langkah kebijakan AS, seperti pengecualian sanksi sementara untuk India membeli minyak Rusia, menciptakan ketidakpastian di bursa saham. Perusahaan energi besar menghentikan aktivitas di Teluk, sementara indeks Dow Jones dan Nasdaq mengalami pergerakan berfluktuasi. Harga Brent dan WTI juga terpengaruh secara signifikan.
Upaya Diplomasi dan Kesepakatan Sementara
Pada awal April 2026, tekanan ekonomi global yang meningkat memaksa pihak-pihak konflik meninjau opsi perdamaian. Sebuah gencatan senjata sementara diumumkan, memberikan ruang bagi pemulihan pasar. Indeks saham AS mengalami rebound, dengan harapan lalu lintas Selat Hormuz kembali normal.
Amerika Serikat mengirim delegasi tingkat tinggi ke Islamabad, Pakistan, untuk negosiasi langsung dengan Iran. Meski ada harapan, kekhawatiran tentang eskalasi dan ancaman serangan terhadap kapal tanker masih mengganggu kestabilan pasar. Kebuntuan politik memicu kembali risiko kenaikan harga minyak dan volatilitas bursa saham.