Facing Challenges: Jaktim soroti ancaman penyakit kronis akibat konsumsi ikan sapu-sapu

Jaktim Peringatkan Bahaya Penyakit Kronis dari Ikan Sapu-Sapu

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur (Jaktim) mengingatkan risiko penyakit kronis akibat konsumsi ikan sapu-sapu yang diduga mengandung logam berat berbahaya. Kepala Sudinkes Jaktim, Herwin Meifendy, menjelaskan bahwa efek dari ikan tersebut tidak terlihat secara langsung, namun bisa menyebabkan komplikasi jangka panjang. “Efek mengonsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu langsung terlihat. Justru yang perlu diwaspadai adalah dampak jangka panjang yang bisa memicu penyakit kronis,” katanya saat diwawancara di Kantor Sudin Kesehatan Jakarta Timur, Rabu.

Logam Berat dalam Ikan Sapu-Sapu

Herwin menyebut bahwa kandungan logam berat seperti merkuri, timbal, arsen, dan kadmium dalam ikan sapu-sapu berpotensi terakumulasi di tubuh manusia. Akumulasi ini bisa memicu berbagai penyakit serius, terutama jika dikonsumsi secara terus-menerus. Dalam jangka panjang, paparan zat-zat tersebut dikaitkan dengan risiko penyakit degeneratif.

“Jika terus terakumulasi, bukan tidak mungkin memicu gangguan serius seperti penurunan fungsi otak hingga penyakit kronis lainnya,” jelas Herwin.

Menurut Herwin, merkuri dapat merusak sistem saraf, otak, dan organ vital seperti ginjal serta paru-paru. Sementara timbal berdampak pada saraf pusat, yang bisa menyebabkan penurunan kecerdasan serta gangguan perilaku. Arsenik memiliki sifat karsinogenik, berpotensi memicu kanker, sedangkan kadmium mengancam fungsi ginjal dan sistem pernapasan.

Upaya Pemerintah Mengendalikan Ikan Invasif

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di sejumlah perairan sebagai langkah untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah risiko kesehatan. Selain itu, Pemkot Jaktim bekerja sama dengan warga telah menangkap 1.831 kilogram atau 1,83 ton ikan tersebut dari 10 kecamatan.

Data menunjukkan, Kecamatan Makasar menjadi wilayah dengan hasil tangkapan terbesar, yakni 481,55 kilogram. Diikuti Kecamatan Ciracas (280 kilogram), Cakung (240,6 kilogram), serta Pasar Rebo (178 kilogram), Cipayung (189 kilogram), Kramat Jati (137,8 kilogram), Jatinegara (126,15 kilogram), Matraman (87 kilogram), Duren Sawit (64,5 kilogram), dan Pulogadung (47,2 kilogram). Di Kecamatan Cipayung, masyarakat turut berperan aktif dalam menyebarluaskan hasil tangkapan di delapan kelurahan.

Herwin menekankan pentingnya masyarakat lebih selektif dalam memilih bahan pangan, terutama yang mungkin mengandung zat berbahaya. “Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya ini, kita mengimbau masyarakat untuk menghindari ikan sapu-sapu dan beralih ke alternatif yang lebih aman dan bernutrisi,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *