Key Discussion: Kebudayaan Sunda jadi unsur penting dalam keberagaman budaya Jakarta
Kebudayaan Sunda jadi unsur penting dalam keberagaman budaya Jakarta
Jakarta – Pemerintah DKI Jakarta menegaskan bahwa kebudayaan Sunda memegang peran sentral dalam menciptakan kekayaan budaya kota ini. Sejarah transmigrasi masyarakat dari Jawa Barat ke Batavia sejak masa kolonial telah membawa unsur-unsur budaya Sunda ke Jakarta. Mochamad Miftahulloh Tamary, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, menjelaskan bahwa para pendatang Sunda datang untuk bekerja, namun juga membawa bahasa, tradisi, dan kesenian lokal mereka.
Masyarakat Sunda datang untuk bekerja dan menetap membawa bahasa, tradisi, dan kesenian mereka. Kemudian, budaya Sunda tumbuh dan beradaptasi dengan budaya Betawi.
Menurut Miftahulloh Tamary, keberlanjutan budaya Sunda di Jakarta berkat interaksi yang berkelanjutan dengan budaya lokal. Hal ini memungkinkan budaya Sunda tetap hidup, berkembang, dan menjadi bagian integral dari identitas Kota Jakarta hingga kini. Sebagai kota yang menampung lebih dari 11 juta penduduk dari berbagai wilayah, Jakarta menjadi pusat pertemuan berbagai tradisi dan seni.
Dengan keberagaman tersebut, berbagai bentuk kesenian pun muncul, termasuk yang berasal dari budaya Sunda. Untuk mengakomodasi karya-karya seni masyarakat urban Sunda, Gedung Kesenian Miss Tjitjih dibangun dan dikelola secara optimal. Nama gedung diambil dari seorang aktor teater asal Sumedang, Jawa Barat, yaitu Nyi Tjitjih.
Saat berusia 18 tahun, Nyi Tjitjih bergabung dengan Grup Opera Valencia, kelompok sandiwara keliling Jawa Timur yang dipimpin Sayyed Aboebakar Bafaqih. Setelah berganti nama menjadi Sandiwara Miss Tjitjih, kelompok ini pindah ke Jakarta pada 1928. Masa puncak keemasan terjadi di Jalan Kramat Raya Nomor 43, Jakarta Pusat, tahun 1951. Di sana, mereka rutin menggelar pertunjukan yang menarik perhatian penonton dari luar daerah.
Sepeninggal Miss Tjitjih dan Sayyed, kelompok teater sempat berpindah lokasi. Harun Bafaqih, satu-satunya anak Sayyed yang memiliki bakat seni, memutuskan melanjutkan jejak ayahnya. Ia membangun kembali Sandiwara Miss Tjitjih di Jalan Stasiun Angke, Jakarta Barat, namun gedung tersebut akhirnya tergusur pada 1987.
Kelompok teater kemudian mendirikan yayasan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928. Pemerintah DKI Jakarta lalu membangun Gedung Kesenian Miss Tjitjih di Cempaka Baru-Kemayoran, Jakarta Pusat, sebagai tempat pertunjukan rutin. Saat ini, gedung tersebut berada di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
Dalam wawancara, Miftahulloh Tamary menyampaikan bahwa pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 di Gedung Kesenian Miss Tjitjih menjadi wujud keberagaman budaya yang telah berkembang selama hampir satu abad. “Pementasan rutin ini terbuka untuk semua kalangan, sebagai sarana aktivasi, edukasi, dan regenerasi,” ujarnya. Tujuannya adalah mendorong Jakarta menjadi destinasi budaya yang berbasis multikultural.