Facing Challenges: Ekonom Ungkap Fenomena Yuan Mulai Geser Dominasi Dolar di RI

Ekonom Ungkap Fenomena Yuan Mulai Geser Dominasi Dolar di RI

Jakarta – David E. Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia, mengingatkan adanya risiko pengetatan likuiditas mata uang yuan. Ia menjelaskan bahwa peningkatan penggunaan yuan dalam perdagangan internasional Indonesia bisa memengaruhi ketersediaan dana asing. Pada forum Central Banking Forum 2026 dengan tema Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global, David menyebutkan ekspor Indonesia ke Tiongkok naik 24%, sementara impor dari sana mengalami peningkatan 37%.

“Penggunaan yuan semakin signifikan, sehingga bisa memengaruhi likuiditasnya. Ketika kita ekspor ke Tiongkok, mayoritas pengusaha lebih memilih dolar, tapi saat impor, mereka justru meminta pembayaran dalam yuan,” ujarnya.

David menambahkan bahwa jika tren ini berlanjut, likuiditas yuan mungkin mengalami tekanan. Namun, ia menyambut baik upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Kementerian Keuangan telah menerbitkan DimSum Bonds, instrumen keuangan yang bisa membantu memperkuat ketersediaan dana asing.

Sebagai informasi, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan menerbitkan DimSum Bond pada Oktober 2025 untuk mendanai APBN 2025. Adapun target dana yang diperoleh mencapai 6 miliar yuan, sekitar Rp14 triliun, dengan durasi 5 tahun dan 10 tahun. Nilai tenor pertama 3,5 miliar yuan berimbal hasil 2,5%, sementara tenor kedua 2,5 miliar yuan dengan bunga 2,9%.

Penerbitan DimSum Bond mendapat antusiasme tinggi dari investor global. Permintaan total mencapai 18 miliar yuan, tiga kali lipat dari jumlah yang diterbitkan. Langkah ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk menghadapi pergeseran dominasi mata uang asing di pasar keuangan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *