Key Strategy: JP Morgan Bilang RI Tahan Krisis Energi, Ini Respons Airlangga
JP Morgan Bilang RI Tahan Krisis Energi, Ini Respons Airlangga
Laporan J.P. Morgan: Indonesia Masuk Peringkat Kedua Negara Tahan Guncangan Energi Global
Jakarta, Indonesia dianugerahi posisi kedua sebagai negara paling stabil dalam menghadapi gangguan energi internasional. Penilaian ini diungkapkan dalam laporan terbaru dari J.P. Morgan Asset Management berjudul Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026, yang dirilis pada 21 Maret 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut hasil laporan tersebut dengan menegaskan bahwa pencapaian ini mencerminkan upaya bersama berbagai kementerian dan lembaga dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
“Hasil ini bukan sekadar pujian terhadap situasi sekarang, tetapi juga bukti keberhasilan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam mengimbangi penggunaan sumber energi lokal dan percepatan transformasi energi,” tutur Airlangga dalam pernyataan resmi yang dikutip Kamis (23/4/2026).
Dalam suasana yang penuh ketidakpastian, posisi Indonesia memberikan ruang lebih besar bagi anggaran belanja pemerintah tahun 2026, sekaligus mengurangi dampak inflasi energi terhadap kebutuhan warga dan operasional sektor usaha. Airlangga menegaskan bahwa kinerja ini tidak membuat Indonesia lengah, karena berbagai ancaman masih bisa muncul.
Strategi Kebijakan Pemerintah untuk Meningkatkan Ketahanan Energi
Dalam upaya memperkuat daya tahan energi, pemerintah sedang fokus pada empat arah utama. Pertama, meningkatkan produksi minyak bumi dan gas alam dalam negeri untuk mengurangi defisit neraca energi. Kedua, mempercepat transisi menuju energi terbarukan sesuai Rancangan Umum Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Umum Pemanfaatan Tenaga Listrik. Ketiga, mendorong penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai sebagai langkah struktural mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak. Keempat, mengamankan jalur logistik energi dengan memperluas pengadaan dari berbagai sumber.
Analisis Laporan: 52 Negara Diamati, Indonesia Tampil Konsisten
Laporan J.P. Morgan mencakup 52 negara yang mewakili sekitar 82% total konsumsi energi global. Indikator yang digunakan adalah total insulation factor, yaitu pengukuran kombinasi empat komponen utama: produksi batu bara dalam negeri, produksi gas alam domestik, pembangkit nuklir, serta energi terbarukan, sebagai proporsi dari kebutuhan energi akhir nasional. Indonesia mencatatkan angka insulation factor sebesar 77%, hanya sedikit di bawah Afrika Selatan (79%) dan di atas Tiongkok (76%) serta Amerika Serikat (70%).
Kekuatan ketahanan energi Indonesia didorong oleh kontribusi signifikan dari batu bara domestik (48%), gas bumi (22%), dan energi terbarukan (7%). Laporan tersebut juga mengklasifikasikan Indonesia sebagai bagian dari kelompok negara yang memanfaatkan efisiensi produksi batu bara dalam menghadapi krisis energi. Negara-negara seperti Tiongkok, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina juga dinilai memiliki keuntungan serupa.
Perbandingan dengan Negara-Negara Maju
Sementara itu, J.P. Morgan menyoroti kelemahan beberapa negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda. Mereka tergolong rentan karena ketergantungan tinggi terhadap impor minyak dan gas. Sebaliknya, Indonesia dan Tiongkok menunjukkan eksposur impor yang jauh lebih rendah. Misalnya, impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya menyumbang 1% dari konsumsi energi primer nasional, dibandingkan Korea Selatan (33%) atau Taiwan dan Thailand (27%).