Topics Covered: Simulasi Dolar Rp17.000 & Harga Minyak US$84, APBN Tekor Berapa?

Simulasi Dolar Rp17.000 & Harga Minyak US$84, APBN Tekor Berapa?

Faktor yang Memicu Ketidakstabilan APBN

Penurunan nilai rupiah hingga Rp17.000 per dolar AS, disertai kenaikan harga minyak global, mengundang kekhawatiran terhadap kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kedua isu ini diperkirakan bisa memperlebar defisit fiskal pemerintah, yang sebelumnya dijaga agar tidak melebihi 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Simulasi Dampak Fluktuasi Valuta Asing dan Harga Minyak

Moammad Faisal, Direktur CORE Indonesia, menjelaskan bahwa timnya pernah melakukan analisis terkait efek perubahan kurs dan harga minyak terhadap kondisi fiskal. Menurutnya, saat ketidakstabilan ekonomi menjadi fokus, pengelolaan keuangan negara menjadi salah satu aspek kritis yang perlu dipantau.

“Pernah kami lakukan untuk simulasi saat bahasa stabilitas yang jadi sorotan, tata kelola fiskal,” kata Faisal dalam acara Central Banking Forum di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Dalam studi kasusnya, beban subsidi energi menjadi salah satu faktor yang memperbesar defisit. Faisal menyebut, jika harga minyak mencapai US$84 per barrel, subsidi yang dibutuhkan akan melebihi Rp100 triliun. Dengan demikian, defisit fiskal terhadap PDB bisa melesat hingga 3%.

Proyeksi Defisit pada Berbagai Skenario

Faisal menegaskan bahwa pelebaran defisit bisa berubah dalam beberapa skenario, tergantung pergerakan harga minyak dan kurs rupiah. Contohnya, jika kurs rupiah turun ke Rp17.000/US$ dan harga minyak berkisar antara US$70-75 per barrel sepanjang tahun, defisit diperkirakan mencapai 2,79% dari PDB.

Sebaliknya, dalam skenario kurs rupiah menembus Rp17.000/US$ dengan harga minyak sebesar US$84-90 per barrel, defisit bisa naik ke 3,13% dari PDB. Ini menunjukkan volatilitas nilai tukar global berdampak signifikan pada kinerja fiskal.

Respons Kementerian Keuangan

Di sisi lain, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa pemerintah masih mengacu pada asumsi harga minyak Indonesian Crude Price (ICP) dalam perhitungan anggaran. Noor Faisal Achmad, Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi DJSEF, menjelaskan bahwa harga minyak saat ini berada di sekitar US$78 per barrel.

“Makanya tadi kita lihat pantauan terkini masih di 78, walaupun tadi berikutnya adalah menggunakannya mana, gitu kan. Kita masih pake ICP, jadi komunikasi kita dengan kementerian ESDM, SKK Migas, ini yang kita gunakan,” ujarnya dalam forum yang sama.

Noor Faisal menambahkan, pemerintah tetap siap menyesuaikan asumsi jika harga minyak global bergerak jauh dari proyeksi awal. “Tapi kalaupun nanti ada, ya pasti kalau gitu masih ada adjustmentnya. Walaupun tadi ada yang spesifik disampaikan, mungkin nanti kami lihat kembali bagaimana pengaruhnya,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *