Tukang Es Punya Harta Rp10 Triliun – Ternyata Ini Sumber Duitnya

Tukang Es Kaya Raya di Era Kolonial

Dulu, ketiadaan kulkas menyebabkan es menjadi barang langka. Para penjual es, termasuk Taspirin, justru meraih keuntungan besar. Pada abad ke-19, nama Taspirin sempat disebut sebagai tokoh kaya yang memiliki kekayaan sekitar Rp 10 triliun. Saat itu, es sangat diminati karena sulit diperoleh. Kekurangan alat pendingin membuat es bernilai tinggi dan selalu laris.

Taspirin memiliki pabrik es di Ungaran, Semarang, pada 1900-an. Pabrik itu kemudian diperluas ke Petelan, Semarang, pada 1910, menjadi salah satu produsen es terbesar di wilayah tersebut. Selain itu, ia juga berbisnis di bidang penjagalan dan perdagangan kulit hewan. Dari kegiatan tersebut, ia bisa mengumpulkan uang dalam jumlah besar.

“Tiap bulannya, dia mendapatkan 30-40 ribu gulden,” tulis Harian de Locomotief pada 25 Juli 1902.

Dalam catatan De Nieuwe Vorstenlanden (8 September 1919), nilai kekayaan Taspirin saat meninggal mencapai 45 juta gulden. Dengan rupiah saat ini, jumlah itu setara Rp 9,7 triliun. Jika dibandingkan harga beras satu liter yang hanya 6 sen di masa itu, ia bisa membeli 750 juta liter beras.

Raja Es Lain yang Membawa Perubahan

Kwa Wan Hong, tokoh lain dari Semarang, juga diketahui sebagai pengusaha es ternama. Ia memulai usaha dengan pendirian pabrik es Hoo Hien pada 1895. Menurut catatan sejarah Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (1999), teknik pembuatan es yang digunakan adalah campuran garam dan ammonia.

“Pabrik es itu meengubah kebiasaan orang Indonesia dalam mengonsumsi es,” kata Koran de Nieuwe Vorstenlanden (17 Juli 1901).

Es tak lagi mahal dan sulit dicari, berkat inovasi Kwa. Sebagai pendirinya industri es pertama di Indonesia, kontribusinya terasa jelas. Namun, besaran kekayaannya tidak diketahui secara pasti, meski ia memiliki banyak tanah, rumah, dan pabrik di berbagai tempat.

Robert Chevalier, penjual es dari Manggelang, juga sukses. Ia menjual es melalui NV. Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek sejak 1920. Usaha itu sempat berkembang hingga memiliki tiga pabrik. Namun, usaha tersebut akhirnya bangkrut saat Jepang menguasai wilayah tersebut pada 1942.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *