Facing Challenges: Bak Makan Buah Simalakama, Penjual Kain Tanah Abang Curhat Efek Perang
Bak Makan Buah Simalakama, Penjual Kain Tanah Abang Curhat Efek Perang
Di Jakarta, harga kain di Pasar Tanah Abang terpantau tetap stabil meski kabar kenaikan akibat dampak perang mulai menyentuh. Namun, situasi ini memaksa para pedagang menghadapi keputusan berat, yakni antara menaikkan tarif atau mempertahankannya agar tetap menarik pembeli.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di Blok A Pasar Tanah Abang, Senin (13/4/2026), sejumlah produk tekstil masih diberi harga sesuai label lama. Banyak kios tampak mempertahankan tanda harga yang sama seperti sebelumnya, mengindikasikan para penjual belum mengubah strategi secara tiba-tiba.
Rinda: Terpantau Perlahan, Belum Terburu-buru
Rinda, seorang pedagang kain, mengungkapkan telah mendengar informasi tentang kenaikan harga. Namun, ia memilih menunda tindakan.
“Iya saya juga lihat di berita gitu. Pas baca, saya langsung tanya ke suami: ‘waduh yah, ini mau naik, gimana?’ Efek perang ya. Cuma kata suami, buat liat kondisi saja,”
katanya saat ditemui di lokasi.
Menurut Rinda, persaingan di pasar membuat para pengusaha harus mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan kenaikan.
“Kita ini jualan bareng ramai-ramai ya di Tanah Abang, jadi nggak bisa kita panik terus naikin harga, sedangkan ada toko lain yang nahan nggak naik, nanti konsumen larinya ke yang murah,”
jelasnya.
Rinda menambahkan, stok yang ia jual kini masih berupa barang lama, karena pembelian dilakukan sebelum perang memengaruhi pasar.
“Belum sih. Kebetulan ini masih barang lama. Maksudnya saya beli stok ini sebelum ada gejolak perang, jadi harganya masih aman,”
ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, harga kain cenderung tidak mengalami perubahan signifikan.
“Bukan dari tahun lalu, sudah bertahun-tahun ya, 2-3 tahun segini aja harga bahan kan jarang naik turun,”
imbuh Rinda.
Feri: Kenaikan Tunggu Kondisi, Diskon Jadi Alternatif
Sementara itu, Feri, pedagang kain brokat, menyebut sudah ada sinyal kenaikan dari pemasok. Namun, ia dan pemilik toko sepakat menunggu lebih dulu.
“Belum ada sih, kalau harga bahan masih sama. Cuma memang pas kemarin saya telpon buat nanya barang, mau ngambil stok, itu saya sempat diinfo kalau katanya harga bakal naik,”
kata Feri di tempat yang sama.
Kendati tekanan biaya mulai terasa, Feri mengungkapkan mereka sementara menahan harga.
“Tapi kayaknya kita sepakat, jangan dulu dinaikin. Kita patokin dulu, misal kain brokat ini kita jual Rp50.000 (per meter), kalau pun naik ya Rp60.000 (per meter), kalau dia beli banyak, bisa kasih diskon jadi Rp55.000 (per kg),”
jelasnya.
Feri menilai kondisi ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam industri kain dan tekstil, sehingga para penjual lebih hati-hati.
“Karena baru kali ini ya harga kain naik. Baru pertama kali loh saya ngerasa diwanti-wanti harga kain bakal naik. Kalau barang lain kan ya sudah gitu ya, ini kain, kayak baru ini saya dapat kabar. Ya efek perang juga. Semoga cepat selesai ya,”
ujarnya.
Redma Gita Wirawasta: Prediksi Kenaikan Harga
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengatakan kenaikan harga kain hingga produk jadi sudah diprediksi akibat lonjakan biaya bahan baku karena konflik Timur Tengah. Menurutnya, kenaikan ini akan mulai terasa di pasar ritel dalam beberapa minggu ke depan, dengan potensi kenaikan sekitar 10%.