Key Discussion: Purbaya Sambangi Investor Kakap AS, Ampuhkah Bawa Segera ke RI?

Purbaya Sambangi Investor Kakap AS, Ampuhkah Bawa Segera ke RI?

Jakarta, pemerintah menyatakan bahwa investor asing siap melakukan investasi besar-besaran di Indonesia. Optimisme ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa setelah bertemu dengan para investor besar AS selama rangkaian pertemuan IMF Spring Meetings di Washington DC, AS, minggu ini. Namun, apakah keputusan tersebut benar-benar mampu mempercepat aliran modal dari luar negeri ke Tanah Air?

Para ahli ekonom mengungkapkan bahwa kondisi pasar nyata belum sepenuhnya sesuai dengan harapan pemerintah. Meski investor asing masih menganggap Indonesia sebagai destinasi menarik, mereka belum sepenuhnya yakin untuk melakukan investasi agresif. Deni Friawan, peneliti senior dari Departemen Ekonomi CSIS, menjelaskan bahwa persepsi positif terhadap Indonesia tetap ada, tetapi belum mengubah aliran modal besar.

Menurut Deni, meski sentimen terhadap Indonesia tetap positif, ini belum mengubah aliran modal besar. Ia menyatakan, optimisme yang diungkapkan Menteri Purbaya belum diwujudkan dalam realitas investasi asing.

Dalam analisisnya, Deni menegaskan bahwa investor asing saat ini berada dalam sikap menunggu. Mereka masih mengevaluasi kredibilitas kebijakan pemerintah Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan fiskal dan gejolak global. Meski potensi pertumbuhan tetap dianggap menjanjikan, kepercayaan investor belum pulih sepenuhnya. Indikator pasar seperti aliran modal, yield SBN, CDS, dan FDI menjadi penanda penting.

Kenaikan indikator risiko juga terjadi. Premi CDS Indonesia dengan tenor lima tahun mencapai 71,43 bps per 14 Januari 2026, naik dari 69,31 bps pada 9 Januari 2026. Perubahan ini menunjukkan bahwa investor global mulai lebih hati-hati, meski tingkat risiko Indonesia masih terjaga.

“CDSnya juga naik dari yang sebelumnya sampai 75 basis point. Lagi-lagi itu memperlihatkan resiko yang meningkat, tapi bukan berarti investor asing benar-benar keluar. Mereka menunggu ada yang masuk, tapi kebanyakan masih menunggu kemajuan kebijakan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, M. Rizal Taufikurahman, kepala pusat makroekonomi dan keuangan INDEF, menilai bahwa persepsi investor asing terhadap Indonesia belum sekuat narasi pemerintah. Meski pertumbuhan ekonomi masih stabil dan rasio utang relatif aman, indikator pasar justru menunjukkan sikap lebih hati-hati. Penurunan kepemilikan asing di SBN ke sekitar 12% serta tekanan pada rupiah mencerminkan keikutsertaan investor, tetapi dengan premi risiko yang lebih tinggi.

Rizal mengungkapkan bahwa kebijakan dan kepastian regulasi menjadi faktor utama yang menentukan minat investor. Pertumbuhan ekonomi 5% dianggap sebagai baseline. Yang diperhatikan sekarang adalah arah kebijakan fiskal, konsistensi keputusan, dan stabilitas nilai tukar.

“Ketika muncul kesan bahwa kebijakan bisa berubah atau fiskal menjadi lebih longgar tanpa kejelasan pembiayaan, investor langsung menaikkan premi risiko,” ujarnya.

Gejolak global juga berpotensi mempercepat perubahan sikap investor. Dengan suku bunga tinggi, dolar yang kuat, dan ketegangan geopolitik, pasar emerging seperti Indonesia rentan terhadap pembalikan arus modal. Rizal menambahkan, jika faktor domestik belum sepenuhnya solid, tekanan eksternal bisa segera memengaruhi sentimen investasi.

Bank Indonesia mencatatkan aliran modal asing yang masuk ke pasar saham mengalami net outflow sebesar Rp7,71 triliun selama periode perdagangan 12–14 Januari 2025. Angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih, meski masih ada minat untuk berinvestasi. Peneliti menyebutkan bahwa FDI juga belum mencapai tingkat sebelumnya, dengan aliran dana yang kembali lebih rendah dibandingkan masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *