Latest Program: Mendag Budi Ungkap Penyebab Harga Minyak Goreng Kemasan Naik

Mendag Budi Ungkap Penyebab Harga Minyak Goreng Kemasan Naik

Jakarta – Harga minyak goreng kemasan premium tercatat naik di beberapa toko ritel modern. Dalam jumpa pers, Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan kenaikan ini tidak disebabkan oleh kelangkaan minyak sawit, melainkan akibat peningkatan biaya dari sektor hulu, terutama bahan baku plastik untuk kemasan. Ia menegaskan pasokan minyak goreng nasional saat ini masih stabil, tetapi fluktuasi harga plastik berdampak signifikan pada harga jual di tingkat konsumen.

“Kenaikan harga ini terutama terjadi di wilayah seperti Papua karena faktor distribusi. Kami sudah berkomunikasi dengan produsen, stok barang tersedia dan tidak ada masalah. Jadi, ketersediaan pasokan aman, tetapi kenaikan harga terutama dipengaruhi biaya plastik,” ujar Budi saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Data dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag menunjukkan harga minyak goreng premium mencapai Rp21.796 per liter, naik 0,19% dibandingkan hari sebelumnya. Jika dilihat bulanannya, harga migor premium hari ini naik sekitar 3,13% dari Rp21.094 per liter pada 2 Maret 2026.

Budi menilai tekanan dari sektor hulu tidak bisa diabaikan, karena memengaruhi berbagai produk turunan, termasuk minyak goreng kemasan. “Kita harus menyelesaikan masalah di hulu, karena dampaknya akan menyentuh produk-produk lain,” katanya.

Ia menjelaskan, ketergantungan minyak goreng premium pada plastik sebagai bahan kemasan membuatnya sangat rentan terhadap perubahan harga bahan baku. “Kemasan rata-rata menggunakan plastik, sehingga naiknya harga plastik langsung berdampak pada harga jual. Maka, masalah plastik harus kita atasi,” ujarnya.

Meski kenaikan harga terjadi, pemerintah memastikan produksi tetap berjalan lancar. Kemendag juga berkoordinasi dengan industri untuk menjaga kelancaran suplai, termasuk melalui impor bahan baku plastik agar tidak mengganggu produksi dalam negeri.

“Harapan kami, produksi plastik yang normal tidak membuat distribusi tetap mahal. Jika produksi stabil, distributor pun harus menyesuaikan,” kata Budi.

Terkait pasokan nafta yang menjadi bahan dasar plastik, Budi memastikan pengiriman sedang berlangsung dan dalam waktu dekat akan tiba di Indonesia. “Proses distribusi sudah berjalan, sebentar lagi bahan tersebut akan sampai. Tidak ada kendala signifikan,” lanjutnya.

Dalam kebijakan, Kemendag menegaskan tidak ada rencana menaikkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng, khususnya untuk produk Minyakita. Pemerintah berharap stabilitas dari sektor hulu dapat segera mengurangi tekanan harga di pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *