Latest Program: Perang AS-Iran Hantam Asia, Potensi Kerugian Capai Rp5.000 T
Perang AS-Iran Hantam Asia, Potensi Kerugian Capai Rp5.000 T
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memanas berdampak serius pada perekonomian Asia-Pasifik. Menurut laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tekanan ini bisa menyebabkan kerugian mencapai ratusan miliar dolar AS, yang berpotensi mengangkat jutaan orang ke dalam kemiskinan. Program Pembangunan PBB (UNDP) memperkirakan kerusakan produksi di kawasan ini berkisar antara US$97 miliar hingga US$299 miliar, setara Rp1.649 triliun hingga Rp5.083 triliun dengan kurs Rp17.000 per dolar AS.
Pengaruhnya terutama dirasakan melalui kenaikan biaya transportasi, listrik, dan pangan. Lonjakan harga energi global, akibat gangguan pasokan, menjadi penyebab utama tekanan ekonomi. Dampak ini diperkirakan menyentuh 0,3% hingga 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Asia-Pasifik. Selain itu, konflik ini berpotensi mendorong 32 juta orang ke dalam kemiskinan secara global, termasuk sekitar 8,8 juta di Asia-Pasifik.
Ketegangan meningkat setelah negosiasi perdamaian antara AS dan Iran tidak berhasil mengembalikan arus perdagangan di Selat Hormuz. Presiden AS, Donald Trump, bahkan dianggap meluncurkan blokade di jalur strategis tersebut. Tindakan ini memicu krisis energi, yang menyebabkan harga minyak dan gas melonjak drastis serta mengurangi proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Asia-Pasifik menjadi daerah paling rentan karena ketergantungan tinggi pada impor energi dari Timur Tengah.
“Yang Anda lihat adalah semacam guncangan besar dan mendadak di mana semuanya berhenti dan cadangan ini menjadi penting,” kata Direktur Regional UNDP Asia-Pasifik, Kanni Wignaraja, seperti dikutip CNN International, Selasa (14/4/2026). Ia menambahkan, jika negara mampu adaptasi cepat, kerugian bisa dikurangi hingga US$97 miliar hingga US$100 miliar. Namun, jika cadangan energi terkuras, dampaknya bisa meningkat hingga tiga kali lipat.
Peringatan juga datang dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang mengkhawatirkan krisis pangan akibat gangguan pasokan minyak, gas, dan pupuk dari Timur Tengah. Jika Selat Hormuz tetap tertutup, negara-negara diperkirakan membutuhkan bantuan finansial tambahan untuk menjaga pasokan pupuk dan memastikan musim tanam berjalan. “Sangat penting agar gencatan senjata berlanjut, dan kapal-kapal dapat kembali bergerak untuk menghindari inflasi pangan,” ujar Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero.
Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan penurunan pertumbuhan global. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan bahwa bahkan skenario paling optimistis tetap berujung pada perlambatan akibat gangguan pasokan dan hilangnya kepercayaan pasar. Sementara itu, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan Asia-Pasifik akan melambat dari 5,4% menjadi 5,1% pada 2026-2027, dengan inflasi naik ke 3,6%. Meski ada sinyal pembicaraan damai berlanjut, pemulihan dinilai tidak akan cepat, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka.