Main Agenda: Nih Hasil Kunjungan Purbaya ke AS: Temui ‘Gajah’ Sampai Debat IMF-WB
Nih Hasil Kunjungan Purbaya ke AS: Temui ‘Gajah’ Sampai Debat IMF-WB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan serangkaian pertemuan dengan para pejabat lembaga keuangan internasional serta investor global selama kunjungan ke Amerika Serikat. Dalam jumpa pers di Gedung Juanda I, Jakarta, ia menjelaskan bahwa dirinya bertemu dengan beberapa lembaga investasi besar, seperti Blackrock dan Fidelity, yang sering disebut sebagai ‘gajah’ dalam dunia finansial.
“Yang terpenting mereka ingin mengetahui cara penyampaian kebijakan fiskal kita, apakah masuk akal atau tidak. Ternyata mereka simpel dan pinter juga, jadi keraguan mereka terhadap defisit dan subsidi berkurang,” ujar Purbaya.
Pertemuan di New York
Selama berada di New York, Purbaya kembali bertemu dengan sejumlah investor yang ingin mengevaluasi kinerja ekonomi Indonesia secara mendalam. Di sana, ia juga menyampaikan penjelasan mengenai langkah pemerintah dalam mengelola defisit 3% yang terjadi karena kenaikan harga minyak mentah.
“Kita jelaskan bahwa ada penghematan yang dilakukan, serta pemasukan tambahan dari sumber daya alam. Kita juga yakin ekonomi masih aman karena memiliki cadangan Rp20 triliun,” tambahnya.
Debat di Washington DC
Setelah itu, Purbaya berpindah ke Washington DC, tempat ia menghadiri debat dengan sejumlah pejabat. Dalam debat tersebut, ia menjelaskan bahwa Indonesia tetap percaya diri dengan kondisi keuangan negara.
“IMF dan Bank Dunia menawarkan utang hingga US$30 miliar, tapi saya menolak. Saya masih punya dana sendiri sebesar US$25 miliar, jadi keuangan kita masih stabil,” ucapnya.
Kunjungan ke S&P
Dalam pertemuan dengan Standard & Poor’s (S&P), Purbaya mengungkapkan bahwa lembaga pemeringkat ini berencana mengunjungi Jakarta pada Juni 2026 untuk mendiskusikan manajemen fiskal dan stabilitas ekonomi Indonesia.
“Saya bilang ke mereka, kunjungan Juni nanti bukan untuk mengubah outlook, tapi untuk membahas apakah langkah kita sudah tepat,” imbuh Purbaya.
S&P menyatakan bahwa rating utang Indonesia akan tetap aman hingga 2028. Meski Purbaya tidak sepenuhnya memahami alasan penilaian tersebut, ia meyakini bahwa fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menopang peringkat BBB/Stable/A-2.
Dalam laporan terbaru, S&P Global menyoroti dampak kenaikan harga energi terhadap fiskal dan ekonomi negara-negara Asia Tenggara. Empat negara, termasuk Indonesia, dinilai akan menghadapi tekanan jika konflik Timur Tengah berlanjut lebih lama. Lembaga ini memperingatkan bahwa ketahanan keuangan negara-negara tersebut bisa terganggu jika pasar energi dunia tidak kembali normal dalam beberapa bulan.