Main Agenda: Perang AS-Iran Bikin Dunia Babak Belur, China Tetap Jadi “Pemenangnya”
Perang AS vs Iran: Dunia Berantakan, China Tampil sebagai Pemenang
Di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat yang melibatkan Israel, Tiongkok memilih bertindak dengan cara yang lebih tenang namun penuh strategi. Presiden Xi Jinping pekan ini secara terbuka meminta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran kritis, sambil menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui diplomasi. Dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Xi mengungkapkan dukungan Beijing terhadap upaya perdamaian, menyatakan bahwa “semua upaya yang kondusif untuk memulihkan perdamaian dan berpihak pada penyelesaian sengketa melalui cara politik dan diplomatik” adalah prioritas.
Konteks Konflik dan Tindakan Tiongkok
Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar lalu lintas laut setelah perang dimulai pada 28 Februari, sementara AS menerapkan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran sejak 13 April. Meski tidak menyebutkan pihak utama konflik secara eksplisit, pernyataan Xi menunjukkan bahwa jalur strategis tersebut harus tetap terbuka demi kepentingan bersama negara-negara kawasan dan komunitas internasional.
“Selat Hormuz harus mempertahankan jalur pelayaran normal, karena hal ini melayani kepentingan bersama negara-negara kawasan dan komunitas internasional,” kata Xi, menurut keterangan resmi Tiongkok, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (23/4/2026).
Komitmen Tiongkok terhadap nonintervensi juga terlihat ketika Beijing memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan koordinasi internasional untuk mengembalikan kestabilan Selat Hormuz. Langkah ini sejalan dengan sikap Tiongkok dalam konflik sebelumnya seperti di Suriah dan Myanmar.
Analisis Kebijakan Tiongkok
Gedaliah Afterman dari Abba Eban Institute mengatakan bahwa Tiongkok memperoleh keuntungan melalui kesabaran, sambil membiarkan Amerika mengelola kekacauan. Pendekatan ini mencerminkan kebijakan lama Tiongkok yang tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. China juga memperkuat hubungan dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, sekaligus tetap menjadi mitra dagang utama AS dan Israel.
Di sisi lain, Chang Ching dari Society for Strategic Studies di Taipei menyatakan bahwa stabilitas di Timur Tengah lebih penting bagi Beijing dibandingkan siapa yang menang dalam konflik. “Mereka mengharapkan perdamaian dan stabilitas. Mereka tidak terlalu peduli siapa yang menang. Keinginan mereka adalah memulihkan lingkungan damai di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz,” ujarnya.
Kekhawatiran dan Aktivitas Diplomatik
Feng Chucheng dari Hutong Research memperingatkan bahwa eskalasi konflik dapat mengancam keamanan energi Tiongkok, mengingat lebih dari 40% impor minyak mentahnya berasal dari wilayah tersebut. “Dari perspektif Beijing, keterlibatan langsung berisiko merusak keseimbangan yang selama ini dijaga antara Iran dan negara-negara Teluk,” tulisnya dalam catatan riset.
Meski berhati-hati, Beijing tetap aktif dalam diplomasi. Menteri Luar Negeri Wang Yi melakukan 26 panggilan telepon sejak konflik pecah hingga menjelang gencatan senjata Iran-AS pada 8 April. Sementara utusan khusus Timur Tengah, Zhai Jun, mengadakan hampir dua puluh pertemuan dengan berbagai pihak. Xi sendiri bertemu Putra Mahkota Abu Dhabi sebelum berbicara dengan Mohammed bin Salman.
Posisi Tiongkok sebagai penyeimbang kekuatan global ditegaskan oleh Ma Xiaolin dari Zhejiang International Studies University, yang mengatakan: “China menjaga hubungan baik dengan AS, Israel, Iran, dan negara-negara Arab Teluk. Semua negara itu adalah teman kami, meskipun mereka saling bermusuhan.”
Dengan pendekatan yang konsisten, Tiongkok menunjukkan bahwa kebijakannya di kawasan Timur Tengah tetap fokus pada aspek ekonomi, sambil memastikan keberlanjutan perdagangan dan stabilitas geopolitik.