Meeting Results: Harga Energi Menggila, Tetangga RI Pangkas Pajak LPG dan Minyak Tanah
Harga Energi Menggila, Tetangga RI Pangkas Pajak LPG dan Minyak Tanah
Pemerintah Filipina terus mengambil langkah untuk mengurangi beban biaya energi pada masyarakat. Tindakan ini dilakukan setelah konflik geopolitik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga bahan bakar yang signifikan. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan pengurangan pajak cukai untuk LPG dan minyak tanah sebagai respons terhadap tekanan yang ditimbulkan oleh perang antara AS dan Israel melawan Iran.
Langkah Ekonomi untuk Rakyat
Dalam konferensi pers, Marcos menyatakan kekecewaannya terhadap kegagalan upaya diplomatik antara Washington dan Teheran. “Kami berharap hasil yang baik dari perundingan AS dan Iran, tetapi tampaknya mereka tidak dapat mencapai kesepakatan, itulah sebabnya kami akan terus membantu rakyat kami,” katanya, dilansir AFP.
Kami telah mengurangi pajak pada produk minyak yang digunakan langsung oleh masyarakat Filipina dalam aktivitas sehari-hari mereka.
Kebijakan ini diambil setelah parlemen Filipina menyetujui undang-undang yang memberi kewenangan kepada presiden untuk menyesuaikan pajak cukai bahan bakar. Perubahan tersebut mulai berlaku Senin, dengan harga LPG turun 3,36 peso atau hampir Rp1.000 per kilogram. Sementara itu, minyak tanah yang umum digunakan oleh keluarga berpenghasilan rendah mengalami penurunan 5,60 peso atau sekitar Rp1.500 per liter.
Potensi Intervensi Lebih Lanjut
Marcos juga mengisyaratkan kemungkinan pengurangan pajak pada bensin dan solar, bahan bakar utama transportasi umum. Rapat komite krisis pemerintah akan digelar Selasa untuk membahas langkah tersebut. Filipina sangat bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah dari Timur Tengah dan produk olahan dari kilang Asia.
Ekspor melalui Selat Hormuz, jalur vital, sempat tertutup oleh Iran, menyebabkan kenaikan harga domestik. Solar, misalnya, melonjak lebih dari dua kali lipat sejak awal perang, mencapai 145 peso atau sekitar Rp41.000 per liter. Tekanan ini juga mengarah pada inflasi yang meningkat, terutama pada harga pangan. Data inflasi pekan lalu menunjukkan kenaikan harga makanan di Maret dua kali lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya, menandakan dampak konflik global terasa di dapur rakyat.