Meeting Results: Ramai Negara Berburu Pupuk Urea ke RI, Australia Datangi Kementan

Ramai Negara Berburu Pupuk Urea ke RI, Australia Datangi Kementan

Pertemuan antara Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia membuka peluang kerja sama pertanian antara kedua negara, khususnya dalam pengadaan pupuk urea. Dalam sesi diskusi, Sudaryono menyebutkan bahwa Australia menunjukkan minat untuk mengimpor urea dari Indonesia. Hal ini terjadi di tengah kondisi geopolitik global yang memengaruhi rantai pasok pupuk internasional.

Sudaryono menjelaskan bahwa gangguan distribusi pupuk, termasuk pengaruh penutupan Selat Hormuz, telah mengurangi kapasitas pasokan global. Sebab, sekitar 30% pasokan pupuk melewati jalur tersebut. Kondisi ini memicu banyak negara mencari alternatif pasokan, termasuk Indonesia, yang dianggap mampu memproduksi urea secara mandiri berkat sumber gas alam domestik.

“Dengan adanya kekacauan global, kebutuhan urea meningkat di berbagai negara. Indonesia punya keunggulan karena produksi urea tidak bergantung pada impor,” kata Sudaryono dalam pernyataannya, yang dikutip Kamis (16/4/2026).

Saat ini, PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatatkan kapasitas produksi urea sebesar 9,36 hingga 9,4 juta ton per tahun. Untuk 2026, produksi diperkirakan mencapai 7,8 juta ton, dengan 6,3 juta ton di antaranya memerlukan subsidi. Sementara, potensi ekspor mencapai 1,5 juta ton, yang menjadi dasar pertimbangan untuk menjual ke luar negeri, termasuk Australia.

Hubungan Resiprokal

Sudaryono menambahkan bahwa minat terhadap pupuk urea Indonesia tidak hanya berasal dari Australia. Negara-negara seperti India, Filipina, dan Brasil juga menunjukkan keinginan serupa. Meski begitu, pemerintah tetap hati-hati agar tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kapasitas nasional.

Kerja sama antara Indonesia dan Australia dalam bidang pupuk bersifat timbal balik. Sementara Indonesia mengekspor urea, negara tersebut juga mengimpor bahan baku fosfat, termasuk DAP, dari Indonesia. “Kita saling membutuhkan, yang terpenting adalah menjaga keseimbangan kepentingan nasional dan hubungan dagang yang sehat,” ujarnya.

Sudaryono memastikan bahwa kebutuhan pupuk subsidi untuk petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Ia menyatakan bahwa sebagian besar produksi urea dialokasikan untuk memenuhi permintaan lokal, sementara sisanya digunakan untuk ekspor. Tingginya serapan pupuk oleh petani menjadi indikator aktifnya kegiatan pertanian di berbagai wilayah.

Lebih lanjut, pemerintah berencana memperbarui pabrik pupuk yang sudah uzur untuk meningkatkan efisiensi produksi. Upaya ini diharapkan bisa memperkuat kemampuan nasional dalam memasok pupuk ke pasar internasional, sambil memastikan ketersediaan pupuk di dalam negeri tetap terjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *