RI Waspada! Industri Otomotif di Thailand Cs Siaga 1 Gelombang PHK
RI Waspada! Industri Otomotif di Thailand Cs Siaga 1 Gelombang PHK
Jakarta – Industri otomotif Thailand tengah menghadapi momen penting. Produksi kendaraan mencapai sekitar 1,45 juta unit per tahun, namun perubahan besar mulai terasa akibat proses elektrifikasi dan otomatisasi. Pergeseran ini tidak hanya memengaruhi teknologi, tetapi juga mengancam nasib hampir satu juta pekerja di sektor tersebut.
Peralihan ke kendaraan listrik (EV) dan penggunaan robot di jalur manufaktur sedang mengubah dasar industri secara mendalam. Kompleksitas kendaraan yang semakin sederhana membuat kebutuhan tenaga kerja berubah drastis. Di sisi lain, tekanan global memaksa perusahaan tetap efisien dan kompetitif.
IndustriALL Global Union, federasi serikat pekerja internasional besar, menekankan pentingnya peran serikat dalam perubahan ini. Jumlah pekerja otomotif di Thailand mencapai satu juta orang, sehingga kebijakan transformasi harus mempertimbangkan dampaknya secara menyeluruh.
“Dari perspektif serikat pekerja, hal terpenting adalah keberadaan organisasi tersebut. Perusahaan tidak boleh membatasi suara kolektif pekerja dalam menyuarakan kepentingan mereka,” ujar Georg Leutert, Direktur Industri Otomotif dan Dirgantara IndustriALL Global Union, Jumat (17/4/2026).
Demokrasi di tempat kerja menjadi krusial untuk menghadapi perubahan besar. Pekerja perlu memiliki peran aktif dalam menentukan arah perusahaan. Georg menambahkan, pertukaran ide antara manajemen dan karyawan harus terus dilakukan untuk mencari solusi bersama.
“Selain itu, perusahaan juga harus memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat luas,” jelasnya.
Perubahan ini sudah terlihat di berbagai negara maju. Banyak pekerja otomotif kehilangan pekerjaan karena produksi kendaraan listrik yang lebih sederhana. “Kami catat lebih dari 100.000 posisi hilang di Jerman tahun lalu. Tren serupa terjadi di Amerika Serikat, Jepang, dan negara lain,” kata Georg.
Ia menilai, solusi tidak bisa hanya berupa penggajian tunai. “Kita harus fokus pada pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan agar pekerja bisa menyesuaikan diri,” tegasnya.
Di tengah transformasi ini, kolaborasi antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah menjadi faktor penentu. Tanpa pendekatan yang inklusif, perubahan berisiko meninggalkan banyak pekerja. “Yang utama adalah bagaimana perusahaan dan serikat pekerja sepakat mengelola perubahan tanpa memutus mata pencarian rakyat,” ujar Georg.