Special Plan: UNICEF Singgung Soal Pangan & Pengembangan Anak di RI
UNICEF Singgung Soal Pangan & Pengembangan Anak di RI
Di Jakarta, UNICEF mengungkapkan hasil evaluasi terhadap Program Kerja Sama Nasional (CPAP) yang sebelumnya diimplementasikan oleh pemerintah Indonesia. Catatan ini menjadi dasar untuk menyusun CPAP 2026-2030 dengan tema “Bersama untuk Setiap Anak Indonesia”.
CPAP merupakan kelanjutan dari kerja sama antara UNICEF dan Indonesia yang berlangsung dalam waktu lama. Total dana yang dialokasikan untuk program ini mencapai US$131 juta atau setara Rp2,5 triliun.
Penyesuaian Pendekatan
Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan bahwa catatan pertama menyoroti pergeseran dari pendekatan piloting ke penguatan sistem. “Tujuannya adalah memperkuat kemampuan sistem dan institusi agar layanan kesehatan, pendidikan, air, sanitasi, perlindungan anak, sosial, gizi, dan pangan lebih efektif, tangguh, serta inklusif,” ujarnya saat acara peluncuran CPAP 2026-2030 di Kantor Bappenas.
Penggunaan Data yang Lebih Strategis
Kedua, UNICEF menekankan perubahan dari penggunaan data sebagai tujuan menjadi pengambilan keputusan berbasis bukti. “Fokus utama adalah memperkuat ekosistem data Indonesia agar kebijakan dan investasi selalu didasarkan pada informasi tepat waktu, rinci, dan dapat diterapkan,” tambah Maniza.
Memanfaatkan Desentralisasi
Maniza juga menyebutkan bahwa kehadiran perwakilan dari 13 provinsi dalam CPAP 2026-2030 menjadi pengingat bahwa desentralisasi adalah kunci untuk mendorong layanan lebih dekat ke masyarakat, keluarga, dan anak-anak.
“CPAP ini menempatkan provinsi serta kabupaten/kota sebagai inti pelaksanaan program,” katanya.
Ia menambahkan bahwa integrasi pendekatan nasional dan lokal akan memperkuat perencanaan, penganggaran, serta akuntabilitas dalam program yang mengarah pada anak-anak di berbagai daerah.
Ketangguhan Iklim sebagai Prioritas
Kelima, CPAP menekankan pentingnya ketangguhan iklim sebagai bagian integral dari sistem yang fokus pada anak. “Kebijakan nasional sekarang tidak hanya menyasar isu lingkungan, tetapi juga memastikan tanggung jawab terhadap kebutuhan anak di tengah perubahan iklim,” jelas Maniza.
Investasi yang Lebih Efisien
Terakhir, UNICEF mengusulkan pergeseran dari kesenjangan pembiayaan ke strategi investasi yang lebih cerdas. “Pembangunan berdampak harus didukung dengan belanja publik yang memadai, efisien, adil, serta memperkuat mekanisme pembiayaan inovatif dan kerja sama dengan sektor swasta,” imbuh Maniza.