Meeting Results: Jusuf Kalla: Saya minta maaf karena baru jelaskan masalah yang viral

Jusuf Kalla: Saya mengucapkan permintaan maaf atas keterlambatan menjelaskan isu yang memicu perdebatan

Jakarta, Sabtu

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang dikenal dengan nama JK, secara terbuka meminta maaf karena baru hari ini memberikan penjelasan mengenai berbagai masalah yang viral terkait dirinya. Ia menjelaskan hal ini dalam konferensi pers di Jakarta, dengan menyebutkan bahwa keterlambatan terjadi karena ia baru saja kembali dari Jepang pada hari subuh.

“Saya mengucapkan permintaan maaf karena baru hari ini bisa menjelaskan isu-isu yang viral. Saya baru pulang dari Jepang tadi pagi,” ujar JK.

Dalam pidatonya, JK menyoroti sebuah ceramah yang disampaikannya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) selama bulan Ramadan 1447 Hijriah. Ia ingin menjelaskan konteks ceramah tersebut kepada publik. “Ceramah yang saya sampaikan itu tentang strategi diplomasi Indonesia dalam memitigasi potensi eskalasi perang regional multipolar,” katanya.

Selain itu, JK juga menampilkan cuplikan video terkait konflik Maluku dan Poso kepada para peserta konferensi. Ia menjelaskan bahwa video tersebut diputar untuk memberikan gambaran singkat tentang situasi yang terjadi 26 tahun lalu. “Karena peristiwa ini terjadi sekitar 26 tahun yang lalu, sebagian dari Anda mungkin belum mengalaminya,” tambahnya.

“Ceramah di UGM itu fokus pada perdamaian, bukan menista agama. Saya diundang untuk menyampaikan topik perdamaian, jadi isinya lebih pada langkah-langkah mengurangi ketegangan regional,” jelas JK.

Ceramah yang berlangsung pada 5 Maret 2026 itu sebelumnya menjadi viral di tengah masyarakat. Tidak lama setelahnya, ia dilaporkan oleh DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut, kata JK, berdasarkan pernyataan tentang “mati syahid” yang dianggap memicu kontroversi.

Sebagai informasi tambahan, video yang ditayangkan hanya menyajikan bagian kecil dari seluruh konflik. “Saya putarkan video dulu, tetapi itu hanya pembukaan. Intinya, yang bisa ditangkap oleh jurnalis pada masa itu, hanya terjadi di kota-kota,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *