Latest Program: Siasat Beli Hewan Kurban di Tengah Lonjakan Harga Jelang Iduladha
Siasat Beli Hewan Kurban di Tengah Lonjakan Harga Jelang Iduladha
Jelang hari raya Iduladha, kenaikan harga hewan kurban sering terjadi dan menjadi tantangan bagi banyak orang. Permintaan yang tinggi sebelum hari pemotongan memicu fluktuasi harga, terutama untuk kambing dan sapi. Bagi masyarakat yang memiliki penghasilan tetap, situasi ini bisa memengaruhi keuangan pribadi. Tanpa persiapan yang matang, niat untuk berkurban mungkin terganggu akibat keterbatasan dana atau stabilitas arus kas yang tidak terjaga.
Untuk mengatasi lonjakan harga, Perencana Keuangan OneShildt Budi Rahardjo menyarankan menyisihkan dana kurban sejak satu semester sebelum Iduladha. Pendekatan ini membantu mengurangi beban finansial secara bertahap, dibandingkan mencari dana dalam waktu mendadak. “Mencicil dana kurban selama 3–6 bulan sebelumnya bisa membuat pengeluaran besar tidak terasa berat, terutama jika sumber dana diambil dari sebagian penghasilan bulanan atau tahunan seperti bonus dan THR,” jelas Budi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (23/4).
Menurut Andi Nugroho dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), membeli hewan kurban saat masih kecil atau mencapai kesepakatan harga awal bisa menghemat biaya. “Membeli anakan dan menyimpannya di peternak hingga matang untuk kurban bisa membuat harga lebih terjangkau, karena biaya awal lebih rendah dibandingkan membeli langsung dari pedagang,” tambah Andi.
“Mengunci harga sejak awal melalui pedagang yang menawarkan program early bird juga membantu. Target dana bisa diatur sebelum hari raya, sehingga kita bisa membeli hewan dengan harga yang telah disepakati, meskipun hari raya masih beberapa waktu lagi,” ujar Budi.
Karena waktu pengumpulan dana kurban relatif singkat, fokus utama sebaiknya pada keamanan nilai uang, bukan pengembangan dana. “Horison investasi untuk kurban biasanya pendek, di bawah satu tahun. Tujuan utama adalah menjaga nilai dana tetap utuh saat diperlukan, bukan mengalahkan inflasi,” tambah Budi.
Andi menekankan pentingnya disiplin dalam menyisihkan dana. “Meski dana tidak terkumpul besar, setiap bulan bisa disisihkan persentase tertentu dari penghasilan, seperti 5% atau 10%, sesuai kemampuan masing-masing. Yang terpenting adalah konsistensi dalam menyisihkan uang,” ucap Andi.
Menurut Andi, instrumen investasi seperti emas atau reksadana pasar uang tetap bisa dipertimbangkan jika jangka waktunya cukup panjang. “Dana yang disisihkan untuk kurban selama setahun bisa diinvestasikan dengan produk yang relatif aman, sekaligus memungkinkan pertumbuhan nilai,” tambahnya.
Sebagai langkah tambahan, Budi menyarankan memisahkan dana tahunan dari rekening utama agar lebih mudah diawasi. “Dengan memisahkan dana kurban, pengelolaannya menjadi lebih terstruktur dan bisa dihindari penggunaan dana untuk keperluan sehari-hari,” kata Budi.
Sementara itu, Andi menegaskan bahwa kewajiban membayar utang tetap utama dibandingkan dengan ibadah kurban, yang bersifat sukarela. “Kurban tidak wajib, jadi prioritas finansial harus tetap pada pembayaran utang, terlepas dari keinginan untuk berkurban,” ujarnya.