Key Strategy: S&P Beri Peringatan ke RI, Apa Saja yang Disorot?
S&P Beri Peringatan ke RI, Apa Saja yang Disorot?
Lembaga pemeringkat internasional S&P Global baru saja merilis analisis terkini mengenai dampak kenaikan harga energi global terhadap kondisi fiskal dan eksternal empat negara utama di kawasan Asia Tenggara. Keempat negara ini, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, dinilai rentan terhadap tekanan yang mungkin terjadi jika gejolak energi akibat konflik Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Skenario Dasar dan Potensi Perpanjangan Gangguan
Dalam laporan tersebut, S&P menegaskan bahwa stabilitas keuangan dan eksternal negara-negara ini bisa terganggu jika pasar energi dunia belum pulih dalam beberapa bulan mendatang. Skenario dasar mereka memproyeksikan puncak perang dan penurunan tekanan di Selat Hormuz pada April, namun gangguan bisa bertahan berbulan-bulan, terutama jika kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah memperlambat pemulihan produksi minyak dan gas.
Tiga Jalur Tekanan Utama yang Disebutkan S&P
S&P mengingatkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan dalam skenario konflik berkepanjangan.
Lembaga ini menyoroti tiga faktor yang berpotensi membebani kondisi fiskal dan eksternal Indonesia: 1) Kenaikan harga energi memperbesar subsidi, menguras anggaran negara, dan memperlebar defisit fiskal. 2) Kenaikan inflasi mendorong suku bunga pasar, sehingga beban bunga utang pemerintah bisa meningkat. 3) Impor minyak yang mahal memperkuat defisit transaksi berjalan, menambah tekanan pada sektor eksternal.
Pemerintah dinilai sedang berusaha membatasi dampak tersebut dengan menjaga harga BBM subsidi, sambil memangkas anggaran program pangan gratis. S&P menyebutkan bahwa kenaikan harga komoditas global berpotensi menopang pendapatan negara, membantu mengimbangi kenaikan biaya energi.
Kondisi Eksternal Indonesia
Dari segi eksternal, S&P mencatat bahwa ekspor Indonesia tahun ini terus mengalami peningkatan, didukung oleh permintaan kuat terhadap kelapa sawit, nikel, kendaraan, dan panel surya. Namun, pertumbuhan ini masih terbatasi oleh penurunan penjualan produk energi seperti batu bara, minyak mentah, dan gas alam. Jika harga energi global kembali melonjak, ekspor Indonesia berpotensi ikut tumbuh, mengurangi tekanan dari impor bahan bakar.
Analisis Negara-Negara Tetangga
Meski Indonesia menjadi sorotan, S&P juga menilai Malaysia relatif lebih siap menghadapi guncangan energi global. Alasannya, negara ini masih memiliki kapasitas produksi energi domestik yang signifikan serta struktur ekonomi yang terdiversifikasi. Meski demikian, lonjakan harga energi tetap bisa memperbesar subsidi dan membebani keuangan pemerintah.
Thailand, sementara itu, menghadapi risiko perlambatan ekonomi dan peningkatan utang pemerintah jika krisis energi memburuk. S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand berpotensi turun di bawah 2% pada 2026. Namun, negara ini dinilai masih memiliki bantalan yang cukup kuat, seperti kondisi moneter yang stabil, pertumbuhan pasar keuangan domestik, serta inflasi yang rendah.
Moody’s Ratings pada 5 Februari 2026 telah mengubah outlook utang Indonesia menjadi negatif dari stable, sambil mempertahankan peringkat Baa2. Dalam konteks ini, S&P menekankan bahwa indikator kredit Indonesia lebih sensitif terhadap perubahan kondisi fiskal dan eksternal dibandingkan negara-negara berkembang lain di kawasan Asia Tenggara.