New Policy: 10 Pemasok Pupuk Impor Indonesia, Terbesar China
10 Pemasok Pupuk Impor Indonesia, Terbesar China
Jakarta – Harga pupuk global mengalami peningkatan signifikan selama konflik Iran yang berlangsung. Negara ini masih bergantung pada pasokan impor yang signifikan, sehingga risiko kenaikan harga bisa terasa lebih cepat. Dalam lima tahun terakhir, kebutuhan pupuk nasional Indonesia sekitar 13 juta ton, dengan impor mencapai 6,3 juta ton.
Bahan baku pupuk seperti batuan fosfat dan kalium/potash juga masih masuk dari luar negeri. Pada 2024, impor pupuk dari negara-negara utama seperti China, Rusia, dan Kanada meningkat kembali. China menjadi penyumbang terbesar dengan angka 1.599 ton, diikuti Rusia sebesar 1.397 ton, serta Kanada yang kembali naik ke 1.260 ton setelah mengalami penurunan tajam tahun sebelumnya.
Fluktuasi Sumber Pasokan
Pola impor pupuk Indonesia terus berubah sesuai dinamika geopolitik. Sebelum 2022, pasokan utama berasal dari China dan Kanada, tetapi tahun itu menjadi titik balik. Peningkatan signifikan dari Rusia dan Kanada menunjukkan pergeseran strategi untuk memastikan ketersediaan pupuk.
Konflik Rusia-Ukraina sejak 2022 memengaruhi rantai pasok pupuk global. Di samping itu, ketegangan di Timur Tengah memperparah situasi dengan mengganggu pengapalan di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi komoditas. “Krisis pengapalan di Selat Hormuz saat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” kata Birol, mengutip World Economic Forum (WEF) pada Minggu, 05/04/2026.
Dampak Bagi Pangan
Analisis menunjukkan bahwa gangguan berkelanjutan pada pasokan pupuk akan memengaruhi kebutuhan pangan di berbagai wilayah. Tahun ini, indeks pangan global naik dari 93,3 pada kuartal IV-2025 menjadi 99,2 pada kuartal I-2026, lalu 103,6 pada kuartal II-2026. Tekanan ini diperkirakan akan bertahan hingga akhir tahun sebelum stabil pada 2027.
Kenaikan harga pupuk juga berdampak langsung pada biaya produksi pangan. Gandum, jagung, minyak nabati, hingga beras terutama dipengaruhi oleh ongkos angkut dan biaya input pertanian. Jika kapal mengambil rute yang lebih jauh atau cuaca buruk menghambat distribusi, harga di pasar ritel bisa bergerak lebih cepat daripada harga global.