Visit Agenda: Begini Cara China Jadi “Mata-Mata” Iran Lewat Jalur Langit

Peran China dalam Konflik AS-Iran

Dalam situasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Tiongkok mulai menunjukkan kontribusi signifikan melalui gambar dari satelit miliknya. Meskipun dukungan Tiongkok terhadap Iran sejak operasi “Epic Fury” pada 28 Februari lalu tampak hati-hati, penggunaan teknologi luar angkasa justru menjadi alat yang semakin diakui. Meski secara terbuka Tiongkok tidak memberikan bantuan militer atau ekonomi yang mencolok, kontribusi dari sektor ruang angkasa dinilai lebih efektif dan bisa menjadi pendorong kunci dalam pengintaian.

Kemitraan yang Tersembunyi

Pada 2 Maret 2026, perwakilan Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa serangan AS dan Israel melanggar aturan internasional. Di sisi lain, kapal Tiongkok yang mengangkut sodium perchlorate—bahan potensial untuk bahan bakar rudal—diduga sudah tiba di Iran sejak awal bulan ini. Laporan intelijen AS juga menyebut Tiongkok sedang menyiapkan pengiriman senjata roket bahu, yang bisa digunakan untuk menyerang pesawat atau helikopter AS yang terbang rendah.

“Pembatasan yang dilakukan Trump justru memberi keuntungan bagi pesaing AS, padahal hal ini tidak perlu terjadi,” kata Bill Greer, ahli geospasial dan pendiri Commonspace, sebuah layanan satelit berbasis nirlaba. Menurutnya, AS merugikan industri satelit komersialnya sendiri demi membatasi akses, sementara pihak lawan masih bisa mendapatkan data melalui sistem lain.

Pengaruh Citra Satelit Tiongkok

Saat akses ke citra satelit dari perusahaan Barat dipersulit, media sosial diisi dengan gambar Timur Tengah yang diambil oleh satelit Tiongkok. Fenomena ini terjadi karena tekanan dari pemerintahan Trump, yang mempersempit akses ke informasi intelijen terbuka. Munculnya gambar Tiongkok dianggap bukan hanya sebagai solusi, tetapi juga sinyal bahwa negara ini semakin mampu menjadi sumber intelijen yang andal.

Kehadiran citra satelit Tiongkok juga menandai pergeseran dominasi Barat dalam bidang pengamatan luar angkasa. Dalam beberapa minggu terakhir, bukti kerja sama antara perusahaan satelit Tiongkok dan Iran semakin banyak. Tiongkok Siwei, bagian dari China Aerospace Science and Technology Corporation, pernah mengambil foto resolusi tinggi terhadap lokasi militer AS dan sekutunya. Selain itu, Financial Times melaporkan bahwa Garda Revolusi Iran membeli satu satelit Tiongkok, yang diduga menjadi sumber data untuk media Iran dalam menayangkan hasil serangan mereka.

Kemajuan Konstelasi Satelit Tiongkok

Pertumbuhan jumlah satelit Tiongkok semakin pesat, terutama dalam pemantauan permukaan Bumi. Selama 2025 saja, negara ini meluncurkan lebih dari 120 satelit, termasuk yang menggunakan radar, gelombang radio, dan kamera. Dengan tambahan ini, total satelit pemantau Bumi Tiongkok mencapai lebih dari 640 unit, jumlah yang hampir menyamai AS. Di AS, perusahaan satelit komersial umumnya bergantung pada penjualan gambar ke militer dan intelijen. Namun, di Tiongkok, batas antara perusahaan swasta dan negara terasa lebih kabur. Konstelasi terbesar adalah Jilin-1, yang dikelola oleh Chang Guang Satellite Technology (CGST) dan dianggap memiliki keterkaitan erat dengan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

Target Jilin-1 sangat ambisius: mampu mengambil gambar setiap 10 menit di setiap titik di Bumi. Dalam persaingan teknologi pengamatan luar angkasa, satelit komersial Tiongkok dan AS kini berjalan hampir sejajar. Satelit Superview Neo-1, contohnya, diklaim bisa menghasilkan gambar dengan ketajaman menyaingi sistem Vantor, yang merupakan salah satu teknologi paling canggih di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *