Historic Moment: Susah Diberantas, Ini Solusi Basmi Ikan Sapu-Sapu Menurut BRIN
Susah Diberantas, Ini Solusi Basmi Ikan Sapu-Sapu Menurut BRIN
Upaya Penangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta
Di sejumlah sungai Jakarta, penangkapan ikan sapu-sapu terus dilakukan dalam beberapa bulan terakhir. Langkah ini bertujuan mengurangi dominasi spesies invasif yang dinilai mengancam keberadaan ikan lokal. Namun, Triyanto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan bahwa penangkapan semata belum cukup tanpa pendekatan lebih komprehensif.
“Pengendalian populasi ikan sapu-sapu membutuhkan pendekatan holistik, termasuk penghadiran predator alami,” ujar Triyanto kepada CNBC Indonesia, Kamis (23/4/2026).
Menurut peneliti, pengendalian ikan invasif ini tidak hanya fokus pada penangkapan, tetapi juga pada peningkatan kualitas ekosistem. Keseimbangan predator diperlukan agar spesies ini tidak terus menghijaukan perairan.
Ikan sapu-sapu dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan. Mereka bisa bertahan di air yang kualitasnya buruk, kadar oksigen rendah, atau bahkan tercemar. Uniknya, mereka juga bisa mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga tidak mudah mati meski lingkungan tidak ideal.
Kelangsungan hidup ikan ini semakin mudah berkat struktur tubuh yang kuat, membuat predator sulit menghancurkannya. Sementara itu, siklus reproduksi mereka sangat cepat. Ikan jantan bahkan menjaga telur hingga menetas, meningkatkan peluang anakannya bertahan.
Di Indonesia, predator alami ikan sapu-sapu terbatas. Jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan di habitat asli. Hal ini diperparah oleh usia panjang spesies ini, sekitar 10–15 tahun, dengan pertumbuhan dewasa yang relatif cepat, hanya 6–12 bulan.
Kehadiran ikan sapu-sapu memengaruhi ikan lokal secara langsung. Mereka bersaing untuk ruang dan makanan, serta memangsa telur dan larva ikan lain. Mulut penghisapnya memungkinkan ikan ini mengambil nutrisi dari tahap awal kehidupan spesies inangnya.
Trijanto menekankan langkah pengendalian yang lebih sistematis, seperti penangkapan rutin, mengganggu siklus reproduksi saat musim hujan, serta edukasi masyarakat untuk tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan umum. Perbaikan habitat dan kualitas air juga dianggap penting agar predator lokal seperti ikan gabus, betutu, atau baung bisa berkembang.