Key Discussion: Eropa Makin Tertinggal Disusul China, Peneliti Indonesia Saksinya
Eropa Makin Tertinggal Disusul China, Peneliti Indonesia Saksinya
Kota Jakarta, Eropa mulai bergeser dari posisi dominannya sebagai pusat riset dan pengembangan bioteknologi global. Perusahaan raksasa farmasi Novo Nordisk, yang sebelumnya meminati penelitian Bramasta Nugraha, akhirnya menghentikan program pengembangan terapi sel jantung di berbagai negara termasuk Denmark. Perubahan ini terpicu oleh kebijakan tarif yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyebabkan sekitar 9.000 karyawan diberhentikan pada September 2025.
Transisi yang Tiba-tiba
Bramasta, seorang peneliti Indonesia yang bekerja di Eropa selama bertahun-tahun, mengalami perubahan drastis dalam karier. Setelah diperlakukan tidak baik oleh perusahaan Eropa, ia justru ditarik oleh perusahaan di Tiongkok yang menawarkan penghasilan lebih besar. “Semua jadi berubah, CEO baru tidak lagi mendukung. Semua program terapi sel di AS, Denmark, ditutup dalam waktu singkat,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
“Semua jadi berubah, [CEO yang baru] enggak suportif lagi. Semua cell therapy, di AS, Denmark, semuanya ditutup. Sepertinya manajemen yang baru ini pengin banget semuanya ditutup sekarang. Hanya dalam 2 minggu, tidak ada transisi,” kata Bramasta.
Pergeseran ini mengejutkan peneliti internasional, termasuk Bramasta, yang masih dalam masa percobaan di Denmark. Karena belum memiliki status kependudukan permanen, ia dan ribuan rekan peneliti lain terpaksa meninggalkan negara tersebut. “Kita seolah-olah dibuang, harus cabut dalam beberapa bulan dan hanya diberikan visa pencari kerja,” tambahnya.
Peluang di Tiongkok
Dalam kesulitan itu, perusahaan Tiongkok menawarkan solusi yang menarik. Konsultan rekrutmen mereka aktif mencari bakat dari seluruh dunia, termasuk Bramasta. “Kalau tanda tangan kontrak, ada komisi dari pemerintah pusat dan provinsi. Bukan hanya untuk talent, perusahaan yang merekrut juga mendapat manfaat,” jelas Bramasta.
Komisi awal yang diberikan serta penghasilan tinggi membuat Bramasta memilih bergabung dengan perusahaan Tiongkok. Di samping itu, negara tersebut menawarkan “5 Star Visa” yang memberi kebebasan seperti warga negara, tanpa terikat pada kontrak kerja. “Sudah seperti punya kewarganegaraan Tiongkok, yang diperbarui setelah 10 tahun. Bukan jadi warga negara, tapi ini lebih fleksibel,” ujarnya.
Kembangnya Industri Bioteknologi Tiongkok
Bramasta menyoroti kemajuan pesat industri bioteknologi Tiongkok. Dalam 14 tahun terakhir, infrastruktur teknologi tinggi dan sains negara ini sudah menyaingi negara-negara lain. Menurutnya, pemerintah Tiongkok agresif menarik peneliti luar karena perbedaan sistem pendidikan. “Pendidikan di Tiongkok fokus pada penguasaan pengetahuan, sementara di Eropa lebih menekankan kreativitas,” katanya.
“Mereka butuh tenaga ahli untuk memakai semua infrastruktur itu. Apa yang saya tangkap dari diskusi, di Tiongkok pendidikan itu dipaksa mengingat. Di Eropa, terbiasa untuk kreatif, bukan karena diingat. Filosofinya, dasarnya sudah tahu, lalu dikembangkan,” tambah Bramasta.
Data menunjukkan bahwa sekitar 33% dari molekul baru yang diproduksi menjadi obat di seluruh dunia berasal dari Tiongkok, meski kontribusi negara itu hanya 4% pada tahun 2015. Kehadiran perusahaan global seperti AstraZeneca juga memperkuat keunggulan Tiongkok dalam inovasi farmasi.