New Policy: Harga Bahan Baku Naik & Rupiah Melemah, Bisnis Fiber Optic “Tercekik”

Harga Bahan Baku Naik & Rupiah Melemah, Bisnis Fiber Optic “Tercekik”

Bisnis jaringan fiber optik tengah menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan baku, terutama HDPE (High-Density Polyethylene) yang tergantung pada harga minyak bumi. Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel) mencatat peningkatan signifikan biaya material serta kabel fiber optik sebesar 17% setelah lonjakan harga minyak mentah global. Hal ini memengaruhi operasional industri telekomunikasi, mengganggu proyek pembangunan jaringan, dan meningkatkan beban pengeluaran impor.

Menurut Nia Kurniasingsih, Wakil Ketua Umum II Apjatel, perang antara AS dan Rusia juga menghambat alur logistik dan rantai pasok. Terlebih, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku fiber optik, yang mencapai 70% dari kebutuhan total. Pelemahan Rupiah yang terjadi akibat kondisi ekonomi global memperparah situasi ini, menyebabkan kenaikan biaya impor material.

“Kondisi ini menyebabkan gangguan pasokan yang menghambat kegiatan bisnis telekomunikasi, serta mendorong kenaikan biaya operasional,” kata Nia Kurniasingsih.

Untuk mengatasi tantangan ini, sektor telekomunikasi diimbau meningkatkan efisiensi dalam perencanaan dan pengoptimalan jaringan. Meski demikian, dampak perang terhadap bisnis jaringan masih terasa, khususnya dalam aspek ketersediaan bahan baku dan biaya produksi. Bagaimana pengaruh konflik tersebut terhadap industri telekomunikasi? Simak dialog Shafinaz Nachiar dengan Nia Kurniasingsih dalam program Profit, CNBC Indonesia, pada Jum’at, 17 April 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *