Main Agenda: Dari Konflik Panjang ke Islah, Rais PWNU DIY: Kini Saatnya Bersalaman
Dari Konflik Panjang ke Islah, Rais PWNU DIY: Kini Saatnya Bersalaman
Pertemuan antara Rais PWNU DIY dengan KH Abdussalam Shohib, cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bishri Syansuri, berlangsung hangat di kantor PWNU. Rombongan yang hadir mencakup para ulama dari PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Atmosfer aula gedung PWNU DIY dihiasi tajuk acara yang terkesan istimewa, meskipun tidak menyertakan logo NU.
Sebelum acara dimulai, KH Abdussalam Shohib, akrab disapa Gus Salam, menyampaikan rencana kunjungannya untuk silaturrahim kepada pengurus wilayah NU Yogyakarta. Ia tiba di kantor PWNU DIY dan disambut oleh Katib PWNU, KH Mukhtar Salim, diikuti oleh jajaran pengurus lainnya. “Saya datang menjelang waktu isya’, disambut oleh Kiai Mukhtar, lalu didampingi pengurus yang lain. Alhamdulillah, sebelum diskusi dimulai, Masyayikh dari Ploso dan Lirboyo bisa berbincang ria dengan tim pengurus,” ujarnya, Sabtu (18/4).
“Saya menyampaikan terima kasih kepada PWNU DIY yang merespons kehadiran dan pertemuan kami. Ini menjadi momen penting untuk mohon doa dan restu dari seluruh pengurus PWNU serta PCNU se-Yogyakarta,” tutur Gus Makmun, yang memimpin rombongan Gus Salam.
Gus Makmun juga menjelaskan latar belakang Gus Salam, seorang tokoh yang dianggap mewakili keluarga PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo. “Tujuan utama silaturrohim ini adalah mendiskusikan usulan Gus Salam sebagai kandidat Ketua Umum PBNU melalui muktamar mendatang,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Salam menegaskan bahwa ia maju sebagai calon ketua berdasarkan arahan para guru-kiainya. “Kami ingin melibatkan pengurus PWNU dan PCNU se-Yogyakarta dalam upaya memperkuat persatuan NU. Kehadiran ini menjadi sarana untuk merajut kesepakatan bersama,” ujarnya.
Selama dialog, Gus Salam memaparkan visi masa depan NU, menekankan pentingnya rekonsiliasi menyeluruh untuk menjaga persatuan. “Dengan mengabaikan ego pribadi dan perbedaan, kita bisa kembali membangun NU secara harmonis,” katanya.
“Alhamdulillah, saya berkesempatan menyampaikan gagasan tentang perjalanan NU ke depan. Poin utamanya adalah perlu dipulihkan hubungan antar unsur dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Salam.
Presentasi tersebut disertai diskusi hangat, di mana para pengurus menyampaikan tanggapan terkait isu strategis NU, seperti aspek ideologis, administratif, serta peran aktif dalam menjaga kemandirian organisasi. Topik sensitif seperti AHWA dan mekanisme pemilihan ketua PBNU juga menjadi fokus pembicaraan.
Rais PWNU DIY, KH Mas’ud Masduki, menutup sesi dengan harapan konflik yang lama berlangsung di NU dapat segera diakhiri. “Kita harus berangkulan, bukan hanya berdebat. Dengan khidmah yang konsisten dan penuh keikhlasan, NU bisa kembali solid,” pungkasnya.