Key Strategy: Pakar ingatkan DIY masuki fase 30 tahun terakhir siklus megathrust

Pakar Ingatkan DIY Siap Menghadapi Fase Akhir Siklus Megathrust

Jakarta – Para ahli geofisika Indonesia memberikan peringatan kepada pemerintah dan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) agar bersiap menghadapi ancaman gempa megathrust yang memiliki siklus seismik berulang setiap 200 tahun. Saat ini, wilayah selatan Jawa, termasuk Yogyakarta, berada pada tahap akhir dari siklus tersebut, menurut studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Upaya Mitigasi Berdasarkan Studi Ilmiah

Prof Dwikorita Karnawati, mantan kepala BMKG dan dewan pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menekankan pentingnya persiapan serius di DIY. Menurutnya, potensi magnitudo gempa bisa mencapai 8,7, sehingga kesiapsiagaan harus ditingkatkan. “Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi hasil studi sains untuk mendukung kebijakan. Kita berada di ujung siklus 200 tahun yang belum rilis energinya,” kata dia dalam seminar peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta yang diikuti secara virtual dari Jakarta, Kamis.

Kita berada di ujung siklus 200 tahun yang belum rilis energinya. Potensi magnitudo bisa mencapai 8,7, sehingga kesiapsiagaan di DIY harus ditingkatkan secara serius.

Infrastruktur Tahan Gempa dan Tsunami

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dianggap sebagai satu-satunya fasilitas penerbangan di Asia Tenggara yang dirancang secara komprehensif untuk tahan terhadap guncangan gempa dengan magnitudo 8,7 dan gelombang tsunami setinggi 15 meter. Struktur bangunannya dirancang agar tetap stabil dan dapat berfungsi sebagai tempat evakuasi darurat bagi sekitar 12.000 orang di lantai mezanin serta terminal.

Kompleksitas Sesar Opak

Selain ancaman megathrust di pesisir selatan, ia juga menyoroti kompleksitas Sesar Opak yang menjadi penyebab gempa darat pada tahun 2006. Dalam penelitian terbaru, Sesar Opak terbukti bukanlah patahan tunggal, melainkan sistem patahan kompleks yang bercabang saat mendekati permukaan bumi. Patahan ini tidak memotong permukaan tanah, sehingga disebut sebagai blind fault. Namun, mekanismenya sangat dinamis, dan energi dari pergerakannya belum sepenuhnya dilepaskan sejak kejadian 2006. Hal ini menuntut pengaturan ruang yang lebih ketat, terutama di zona dengan tingkat amplifikasi guncangan yang tinggi.

Kebijakan Berbasis Ilmu Pengetahuan

Dalam seminar tersebut, ia secara terbuka menyampaikan apresiasi terhadap komitmen pemimpin DIY dalam menerapkan kebijakan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Dengan pendekatan ini, ia berharap sinergi antara teknologi peringatan dini dan kearifan lokal dapat terus dipertahankan, sehingga masyarakat tetap siap menghadapi risiko bencana besar di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *