New Policy: Cari Kerja Kantoran Makin Susah, PHK Makin Ganas di 2026
Cari Kerja Kantoran Makin Susah, PHK Makin Ganas di 2026
Tahun 2026 baru berjalan empat bulan, tetapi tren pemangkasan karyawan sudah terlihat di berbagai industri. Di AS, sejumlah perusahaan mengambil langkah besar untuk mengurangi jumlah karyawan, dengan alasan utama teknologi AI yang memakan biaya signifikan. Contohnya, Meta melakukan pengurangan staf pada awal tahun, terutama di unit Reality Labs yang fokus pada teknologi VR dan AR.
Kebijakan PHK di Sektor Teknologi
Meta memangkas sekitar 10% dari divisi Reality Labs, sementara laporan Reuters menyebutkan perusahaan seperti Pinterest dan Amazon juga terlibat. Pinterest memecat kurang dari 780 orang atau 15% dari total karyawan, sementara Amazon menghilangkan 16 ribu posisi. Di April, Snap dan Disney mengumumkan rencana pengurangan karyawan masing-masing sekitar 1.000 orang. Beberapa perusahaan lain seperti Autodesk, AngiL, Workday, dan C3.ai juga memberlakukan kebijakan serupa, meski jumlah yang diumumkan belum sepenuhnya jelas.
PHK tidak hanya melibatkan perusahaan teknologi. Sektor ritail, manufaktur, dan keuangan juga mengalami tekanan serupa. Kebijakan ini menciptakan tantangan bagi para lulusan baru dan pengangguran yang sulit mencari peluang kerja.
Dampak AI pada Pemangkasan dan Pembaruan Pekerjaan
Neel Kashkari, Presiden Federal Reserve Minneapolis, menyatakan bahwa AI membuat perusahaan besar memperlambat proses rekrutmen. Situasi ini diperkirakan akan berlanjut, memperparah kesulitan para pencari kerja. Meski demikian, perusahaan kecil dianggap tidak terlalu terpengaruh oleh tren ini.
“AI benar-benar berdampak ke perusahaan besar,” ungkap Kashkari, dikutip dari CNBC Internasional.
Dalam konteks global, Inggris menjadi contoh yang menarik. Morgan Stanley mencatat bahwa adopsi AI lebih berpengaruh terhadap pekerja di sana dibandingkan negara lain. Tahun lalu, sekitar 8% tenaga kerja di Inggris dihilangkan, menjadi yang terburuk dibanding Jerman, AS, Jepang, dan Australia. Meski meningkatkan produktivitas sebesar 11,5%, AI juga menyebabkan penurunan lowongan pekerjaan hingga 37% di bidang terkait teknologi, sementara posisi non-AI mengalami penurunan 26%.
“Meningkatnya biaya memperkerjakan staf mendorong bisnis kecil untuk beralih ke AI dan outsourcing,” jelas Justin Moy dari EHF Mortgages.
Kebijakan pengurangan karyawan di Inggris terus berlanjut, dengan sekitar seperempat posisi yang tidak diisi kembali. Fenomena ini mencerminkan dampak AI yang luas, tidak hanya di AS tetapi juga di berbagai belahan dunia.