Topics Covered: Breaking: Trump Ancam Iran, Perang AS-Iran Jilid II di Depan Mata?
Breaking: Trump Ancam Iran, Perang AS-Iran Jilid II di Depan Mata?
Ancaman Trump dan Persiapan Perang
Jakarta, Presiden AS Donald Trump kembali memicu ketegangan geopolitik global. Dengan menyusul akhir masa gencatan senjata ringan dengan Teheran, Trump justru mengeluarkan ancaman tajam yang memicu khawatir kembali terjadi konflik bersenjata antara AS dan Iran. Dalam wawancara dengan PBS News, dia mengingatkan bahwa “banyak bom akan mulai meledak” jika tidak ada kesepakatan yang tercapai sebelum tenggat waktu Selasa malam.
“Banyak bom akan mulai meledak” jika tidak ada kesepakatan sebelum tenggat waktu Selasa malam, kata Trump.
Ancaman ini bukan pertama kalinya. Sehari sebelumnya, kepada Fox News, Trump bahkan menyatakan “seluruh negara akan diledakkan” jika Teheran menolak menandatangani perjanjian. Ia juga menargetkan infrastruktur Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik, sebagai objek serangan.
Impak Tenggat Waktu dan Tuntutan AS
Washington tetap membuka kemungkinan negosiasi, meski dengan nada keras. Trump menegaskan, “Saya tidak akan membiarkan mereka memaksa Amerika Serikat membuat kesepakatan yang tidak sebaik yang seharusnya,” tulisnya di Truth Social, seperti dikutip CNBC International, Selasa (21/4/2026).
Di sisi lain, penutupan de facto Selat Hormuz sejak 28 Februari lalu telah mengganggu pasokan minyak global. Selat itu menjadi jalur utama bagi sekitar 20% minyak dunia, dan penutupannya meningkatkan harga minyak secara signifikan. Dampak ini memberi Iran keuntungan strategis, sekaligus memicu tindakan AS berupa blokade laut terhadap pelabuhan Teheran. Trump mengklaim blokade tersebut “benar-benar menghancurkan Iran” dan menegaskan tidak akan dicabut sebelum kesepakatan diperoleh.
“Benar-benar menghancurkan Iran” adalah klaim Trump terkait blokade Selat Hormuz.
Diplomasi yang Masih Berjalan
Upaya negosiasi masih dilanjutkan meski dalam kondisi tidak pasti. Delegasi AS dijadwalkan berangkat ke Islamabad, Pakistan, untuk sesi kedua perundingan damai setelah pertemuan pertama berlangsung 21 jam tanpa hasil. Rombongan tersebut akan dipimpin Wakil Presiden JD Vance, didampingi Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Persiapan Iran masih menjadi tanda tanya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teheran menyatakan belum ada rencana hadir dalam diskusi, tetapi laporan terpisah menyebutkan kemungkinan delegasi Iran tetap menghadiri negosiasi.